RADAR JOGJA - Di tengah keindahan alam dan budaya Bali yang memesona, terdapat kekayaan spiritual yang terus hidup dan dijaga dengan khidmat oleh umat Hindu.
Salah satu wujud dari warisan spiritual tersebut adalah perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan, yang berlangsung dua kali dalam setahun berdasarkan kalender Saka Bali, setiap 210 hari sekali.
Hari Raya Galungan bukan sekadar hari libur keagamaan. Ia adalah simbol kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan).
Kata Galungan sendiri secara etimologis berarti "bertemu" atau "bersatu", merepresentasikan bersatunya kekuatan rohani dalam diri manusia untuk melawan sifat-sifat buruk dan memantapkan langkah pada jalan kebenaran.
Dalam kepercayaan umat Hindu, pada hari Galungan para leluhur akan turun ke bumi, membawa berkat dan perlindungan bagi keturunannya.
Maka dari itu, Galungan selalu diawali dengan Penampahan Galungan, sehari sebelumnya, yang pada tahun ini jatuh sebelum hari raya utama.
Pada Senin lalu, (21/4), umat Hindu melakukan penyembelihan hewan sebagai simbol pengendalian diri terhadap hawa nafsu dan sebagai bentuk persembahan.
Puncak perayaan Galungan pertama tahun ini jatuh pada Rabu, 23 April 2025, di mana suasana desa-desa di Bali akan dipenuhi oleh penjor, tiang bambu berhias janur yang melengkung indah di depan rumah-rumah sebagai tanda syukur kepada Sang Pencipta.
Keesokan harinya, Umanis Galungan (Kamis, 24 April), menjadi waktu penuh sukacita di mana keluarga saling mengunjungi dan mempererat tali silaturahmi.
Sepuluh hari setelah Galungan, umat Hindu akan merayakan Hari Raya Kuningan, yang tahun ini jatuh pada Sabtu, 3 Mei 2025.
Kuningan berasal dari kata "kuning", yang melambangkan kemuliaan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Pada hari ini, doa-doa dipanjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para dewa, memohon keselamatan dan kedamaian bagi seluruh alam semesta.
Sehari sebelumnya, Penampahan Kuningan (Jumat, 2 Mei), menjadi waktu persiapan dengan penuh kesadaran spiritual. Umat menyiapkan sesajen, membersihkan lingkungan, dan mensucikan diri menyambut hari penuh berkah.
Tidak berhenti di bulan Mei, rangkaian Galungan dan Kuningan akan kembali hadir pada akhir tahun. Galungan kedua akan dirayakan pada Rabu, 19 November 2025, didahului oleh Penampahan pada Selasa, 18 November, dan diikuti oleh Umanis pada Kamis, 20 November.
Sementara itu, Hari Raya Kuningan kedua akan jatuh pada Sabtu, 29 November 2025, setelah persiapan pada hari Jumat sebelumnya.
Lebih dari sekadar tradisi, Galungan dan Kuningan adalah momentum refleksi spiritual. Umat Hindu diimbau untuk mempersiapkan diri, tidak hanya secara fisik, tapi juga batin, dalam menyambut hari-hari suci ini.
Perayaan ini diharapkan mampu memperkuat nilai-nilai kebajikan, mempererat tali persaudaraan, dan memohon kedamaian bagi seluruh ciptaan.
Editor : Bahana.