Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lebaran 2025 Bakal Beda Lagi? Ini Penyebab NU, Muhammadiyah, dan Pemerintah Tetapkan 1 Syawal Berbeda!

Meitika Candra Lantiva • Senin, 24 Maret 2025 | 21:18 WIB
Cara penetapan awal bulan Hijriah antara organisasi NU, Muhammadiyah, Pemerintah Indonesia, dan Arab Saudi.
Cara penetapan awal bulan Hijriah antara organisasi NU, Muhammadiyah, Pemerintah Indonesia, dan Arab Saudi.

RADAR JOGJA - Penetapan tanggal 1 Syawal, yang menandai perayaan Idul Fitri, sering kali berbeda antara organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, pemerintah Indonesia, dan negara-negara lain seperti Arab Saudi.

Perbedaan ini terutama disebabkan oleh metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriah.


Metode Penetapan Awal Bulan Hijriah


Nahdlatul Ulama (NU): NU mengutamakan metode rukyat (pengamatan langsung hilal) untuk menentukan awal bulan Hijriah.

Jika hilal tidak terlihat pada hari ke-29, bulan tersebut disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).

Meskipun NU juga menggunakan hisab (perhitungan astronomi) sebagai pendukung, keputusan final tetap berdasarkan hasil rukyat.


Muhammadiyah: Organisasi ini menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu perhitungan astronomi untuk menentukan posisi hilal.

Jika hilal sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam pada hari ke-29, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru, tanpa memerlukan konfirmasi melalui rukyat.

Pemerintah Indonesia: Pemerintah, melalui Kementerian Agama, menggabungkan metode hisab dan rukyat dalam sidang isbat untuk menetapkan awal bulan Hijriah.

Kriteria yang digunakan adalah imkanur rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal) dengan standar MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat.

Arab Saudi: Negara ini menggunakan metode rukyat dalam menetapkan awal bulan Hijriah.

Jika hilal tidak terlihat pada hari ke-29, bulan tersebut disempurnakan menjadi 30 hari.


Contoh Perbedaan Penetapan Idul Fitri

Pada tahun 2023, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1444 H jatuh pada Jumat, 21 April 2023, sementara pemerintah dan NU menetapkan pada Sabtu, 22 April 2023.

Perbedaan ini terjadi karena perbedaan metode dan kriteria yang digunakan dalam penetapan awal bulan.


Dampak Sosial dan Upaya Penyatuan


Perbedaan penetapan Idul Fitri dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat, seperti perbedaan hari libur dan pelaksanaan Salat Id.

Untuk meminimalkan perbedaan, upaya penyatuan kalender Hijriah terus dilakukan, termasuk pengembangan standar baru MABIMS yang diharapkan dapat menyatukan umat Islam dalam penentuan awal bulan Hijriah. (Adinda Fatimatuzzahra)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#1 syawal #pemerintah #Muhammadiyah #NU #lebaran 2025