RADAR JOGJA - Penetapan tanggal 1 Syawal, yang menandai perayaan Idul Fitri, sering kali berbeda antara organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, pemerintah Indonesia, dan negara-negara lain seperti Arab Saudi.
Perbedaan ini terutama disebabkan oleh metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Metode Penetapan Awal Bulan Hijriah
Nahdlatul Ulama (NU): NU mengutamakan metode rukyat (pengamatan langsung hilal) untuk menentukan awal bulan Hijriah.
Jika hilal tidak terlihat pada hari ke-29, bulan tersebut disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).
Meskipun NU juga menggunakan hisab (perhitungan astronomi) sebagai pendukung, keputusan final tetap berdasarkan hasil rukyat.
Muhammadiyah: Organisasi ini menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu perhitungan astronomi untuk menentukan posisi hilal.
Jika hilal sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam pada hari ke-29, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru, tanpa memerlukan konfirmasi melalui rukyat.
Pemerintah Indonesia: Pemerintah, melalui Kementerian Agama, menggabungkan metode hisab dan rukyat dalam sidang isbat untuk menetapkan awal bulan Hijriah.
Kriteria yang digunakan adalah imkanur rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal) dengan standar MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat.
Arab Saudi: Negara ini menggunakan metode rukyat dalam menetapkan awal bulan Hijriah.
Jika hilal tidak terlihat pada hari ke-29, bulan tersebut disempurnakan menjadi 30 hari.
Contoh Perbedaan Penetapan Idul Fitri
Pada tahun 2023, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1444 H jatuh pada Jumat, 21 April 2023, sementara pemerintah dan NU menetapkan pada Sabtu, 22 April 2023.
Perbedaan ini terjadi karena perbedaan metode dan kriteria yang digunakan dalam penetapan awal bulan.
Dampak Sosial dan Upaya Penyatuan
Perbedaan penetapan Idul Fitri dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat, seperti perbedaan hari libur dan pelaksanaan Salat Id.
Untuk meminimalkan perbedaan, upaya penyatuan kalender Hijriah terus dilakukan, termasuk pengembangan standar baru MABIMS yang diharapkan dapat menyatukan umat Islam dalam penentuan awal bulan Hijriah. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva