RADAR JOGJA - Pada 20 Februari 2025, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi demonstrasi besar-besaran dengan tema "Indonesia Gelap".
Aksi ini diadakan di berbagai kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, Medan, dan beberapa kota lainnya.
Demo ini dipicu oleh kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat, khususnya mahasiswa, dengan adanya pemangkasan anggaran yang dapat mempengaruhi berbagai sektor penting di Indonesia, termasuk pendidikan.
Aksi demonstrasi sudah berlangsung dari tanggal 17 hingga 19 Februari 2025 dengan aksi demo skala besar yang dilaksanakan di Patung Kuda Monas, Jakarta dan memuncak pada Kamis (20/2/2025).
Tuntutan utama dari para demonstran dalam aksi "Indonesia Gelap" ini meliputi lima hal besar.
Pertama, mahasiswa meminta pencabutan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 yang mengatur efisiensi anggaran negara.
Mereka menilai kebijakan ini sangat merugikan sektor-sektor yang krusial, terutama pendidikan, dan menganggap bahwa penghematan tersebut lebih menguntungkan pemerintah daripada rakyat.
Kedua, mereka menuntut pembatalan rencana pemerintah yang memberikan izin pengelolaan tambang kepada perguruan tinggi.
Mahasiswa khawatir bahwa langkah ini akan mengalihkan fokus pendidikan yang seharusnya lebih berorientasi pada ilmu pengetahuan dan kesejahteraan rakyat, menjadi lebih terfokus pada eksploitasi sumber daya alam.
Selain itu, demonstrasi ini juga mengangkat isu kesejahteraan tenaga pengajar, yakni dengan menuntut pencairan tunjangan kinerja dosen (tukin) secara tepat waktu.
Mereka berpendapat bahwa tunjangan ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan kesejahteraan dosen di Indonesia.
Para mahasiswa juga mendesak agar program makan bergizi gratis (MBG) yang diperkenalkan oleh pemerintah untuk mahasiswa bisa dievaluasi dan ditingkatkan efektivitasnya agar benar-benar memberikan manfaat bagi penerima, mengingat program ini seringkali dianggap tidak tepat sasaran.
Salah satu tuntutan yang juga cukup mencuri perhatian adalah penolakan terhadap keterlibatan militer dalam peran sipil, yang dinilai bisa mengancam demokrasi dan kebebasan berpendapat.
Mahasiswa juga menuntut agar ada peningkatan subsidi gas memasak yang dinilai semakin mahal bagi masyarakat kecil.
Aksi demo ini diwarnai dengan kericuhan di beberapa kota.
Meskipun pada awalnya demonstrasi berlangsung damai, ketegangan antara mahasiswa dan aparat keamanan semakin memuncak.
Beberapa laporan menyebutkan adanya bentrokan fisik yang menyebabkan beberapa mahasiswa terluka dan bahkan ada yang ditangkap oleh pihak kepolisian.
Di Jakarta, misalnya, kericuhan terjadi saat demonstran mencoba mendekati gedung pemerintah, yang memicu tindakan tegas dari aparat yang menghalau peserta demo dengan gas air mata dan pemukulan.
Kejadian ini menambah ketegangan dalam aksi yang semula diharapkan berlangsung dengan damai.
Hasil dari aksi ini sejauh ini belum menunjukkan respons signifikan dari pemerintah.
Meskipun demikian, BEM SI dan para mahasiswa yang terlibat dalam aksi tersebut berencana untuk terus menggelar demonstrasi hingga tuntutan mereka didengar.
Demonstrasi ini juga mencerminkan semakin tingginya ketidakpuasan di kalangan mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah yang dirasa tidak berpihak pada rakyat dan pendidikan.
Aksi "Indonesia Gelap" menjadi simbol dari protes besar terhadap arah kebijakan yang dianggap semakin mengaburkan masa depan Indonesia.
Dengan tuntutan yang belum dipenuhi dan kericuhan yang terjadi di lapangan, banyak yang berharap pemerintah akan segera merespons, mengingat besarnya dampak dari kebijakan yang ditentang dan ketegangan yang semakin meningkat.
Aksi ini pun menambah deretan panjang protes mahasiswa yang telah menjadi bagian penting dalam mengawal jalannya demokrasi di Indonesia. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva