RADAR JOGJA - Sebuah momen menghentak terjadi di tengah kunjungan kerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Permunas 1, Kota Tangerang.
Effendi, seorang warga Kelurahan Cibodasari, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, nekat menerobos kerumunan untuk menyampaikan keluh kesahnya langsung di depan sang menteri.
Dengan suara bergetar menahan tangis, Effendi menyuarakan jeritan hati jutaan pengguna gas elpiji 3 kg yang merasa dirugikan oleh kebijakan penghapusan pengecer.
Pria berpenampilan sederhana dengan kemeja abu-abu dan topi cokelat itu tampak emosional saat berbicara.
"Saya sekarang lagi masak, saya tinggal di rumah. Bukan soal antre gasnya, anak kami lapar butuh makan, butuh kehidupan, Pak! Logika jalan dong, Pak!" ujar Effendi dengan suara lantang namun terbata-bata, mencerminkan kepedihan yang dirasakan banyak keluarga di tengah kelangkaan gas elpiji 3 kg.
Momen ini terjadi ketika Bahlil sedang meninjau langsung antrean panjang warga yang berusaha mendapatkan gas elpiji 3 kg.
Kebijakan penghapusan pengecer yang digulirkan pemerintah dinilai telah menyulitkan masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah.
Effendi, yang mewakili suara rakyat kecil, tak segan menyampaikan kenyataan pahit yang dihadapi sehari-hari.
Melihat respons Effendi, Bahlil tampak salah tingkah.
Sang menteri hanya bisa tersenyum kecut sembari menepuk-nepuk pundak Effendi, berusaha meredakan emosi pria itu.
Namun, ekspresi Bahlil seolah mengisyaratkan betapa beratnya beban yang harus dipikul pemerintah dalam mengatasi masalah ini.
Keberanian Effendi menuai apresiasi dari warga sekitar yang menyaksikan kejadian tersebut.
Banyak yang merasa bahwa apa yang disampaikan Effendi adalah cerminan dari kenyataan yang selama ini mereka alami.
"Effendi berani bicara apa adanya. Itu yang kami rasakan setiap hari. Gas susah, harga mahal, hidup semakin sulit," ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Momen ini menjadi pengingat bagi pemerintah bahwa kebijakan yang diambil harus benar-benar mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat kecil.
Jeritan Effendi, "Anak saya lapar, Pak!", bukan sekadar keluhan, melainkan cerminan dari krisis yang sedang melanda rakyat.
Sementara itu, Bahlil dalam pernyataan singkatnya usai kejadian berjanji akan mengevaluasi kebijakan yang telah diambil.
"Kami mendengar keluhan masyarakat. Ini menjadi bahan evaluasi kami untuk mencari solusi terbaik," ujarnya.
Namun, apakah janji ini akan terealisasi atau hanya menjadi penghibur sesaat, masih harus dibuktikan.
Effendi, sang pemberani, telah menyuarakan apa yang selama ini terpendam. Kini, bola ada di tangan pemerintah.
Apakah mereka akan mendengar jeritan rakyat, atau hanya akan berlindung di balik kebijakan yang tak berpihak? Waktu yang akan menjawab. (Adam Jourdi Alfayed)