MAGELANG - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Magelang menggandeng pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengelola limbah yang dihasilkan dari program makan bergizi gratis (MBG). Dalam sehari, ada satu hingga dua kuintal limbah makanan. Limbah itu dapat dijadikan sebagai pakan maggot maupun hewan ternak.
Kepala SPPG Kota Magelang M Rauuf Oktavian Nur mengutarakan, sedari awal, SPPG bekerja sama dengan UMKM Reformasi Hijau binaan dinas lingkungan hidup (DLH) setempat. "Mereka membantu kami untuk mengolah limbah food waste sisa bahan baku dan makanan dari sekolah-sekolah," jelasnya, Rabu (15/1).
Dia menyebut, masing-masing sekolah diminta untuk mengumpulkan sampah dalam sebuah kantong. Barulah tim dari SPPG akan mengambil limbah tersebut sekaligus tempat bekas makanan. UMKM Reformasi Hijau itu, kata dia, setiap sore akan mengambil limbah-limbah yang sudah terkumpul di kantor SPPG.
Rauuf mengatakan, limbah itu diberikan secara cuma-cuma kepada UMKM Reformasi Hijau. Sebab, SPPG juga ingin membantu perkembangan UMKM lokal. Pengolahannya pun diserahkan kepada UMKM tersebut. "Selain food waste, mereka juga membantu kami untuk mengelola limbah anorganik dari dapur, seperti APD maupun plastik," tuturnya.
Setiap hari, dia memperkirakan ada satu hingga dua kuintal limbah yang dihasilkan dari dapur maupun sisa makanan dari sekolah. Ketika diolah menjadi bubur dapat menghasilkan sebanyak 180 kilogram (kg) per hari. Bubur tersebut menjadi pakan maggot maupun hewan ternak lain.
Menurutnya, selain dapat melestarikan lingkungan agar tetap bersih dan terjaga, pengolahan limbah ini juga untuk memberikan edukasi kepada siswa soal memilah sampah. Seperti memisahkan limbah organik dan anorganik. Selain itu, kemitraan dengan UMKM Reformasi Hijau ini dapat memberi manfaat karena mempunyai nilai ekonomis.
Pelaku UMKM Reformasi Hijau Kota Magelang Septian Yoga Prabowo mengatakan, setiap hari mendapat limbah dari kantor SPPG sebanyak satu hingga dua kuintal. "Ada food lost seperti bonggol sayur, kepala ikan, dan lainya. Kalau untuk food waste dari sisa makanan anak-anak di sekolah," sebutnya.
Hanya saja, limbah yang didapat itu tidak seluruhnya diolah. Limbah anorganik seperti plastik dan residu, kata dia, akan dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) Banyuurip. Sementara limbah organik akan dipilah untuk dijadikan pakan maggot. Sebab, usahanya adalah budidaya maggot.
Septian menyebut, maggot tersebut akan menguraikan sampah organik dalam kurun waktu yang cepat. Nantinya, maggot itu dapat dijual sebagai pakan hewan ternak karena mengandung protein yang tinggi. Selain limbah dari SPPG, dia juga mengambil limbah dari sejumlah hotel untuk memberi pasokan makan maggot. (aya/din)
Editor : Din Miftahudin