KEBUMEN - Tingginya harga cabai belakangan ini tidak dapat dinikmati semua petani. Bahkan sebagian petani cabai di Kebumen harus rela gagal panen akibat tanaman mereka terserang hama patek. Kondisi ini membawa keprihatinan lantaran hasil panen tidak bisa untuk menutup biaya produksi.Baca Juga: Kiriman Sampah dari Mal di Sleman, Warga Geparang Purwodadi Resah, DLH Purworejo Segera Panggil Pemilik Lahan
Seperti dirasakan Sarwono, 47, petani cabai asal Desa Setrojenar, Kecamatan Buluspesantren. Dia mengaku perolehan panen cabai pada musim ini diluar ekspektasi. Serangan hama patek membuat ribuan tanaman cabai miliknya gagal panen. Balik modal aja mending, ini tidak sama sekali. “Hama yang datang luar biasa," bebernya, Minggu (12/1).
Sarwono mengungkapkan, serangan hama patek datang secara tiba-tiba. Tidak sedikit tanaman layu hingga mengakibatkan buah perlahan membusuk. Menurutnya kondisi ini tidak lepas karena faktor perubahan cuaca ekstrem.
Dia meminta agar pemerintah jeli dan peka terhadap persoalan yang dihadapi petani cabai. Menurutnya kegagalan panen menjadi kesedihan tersendiri mengingat tidak sedikit modal yang dikeluarkan untuk bertanam cabai. Sedih pasti sedih ya, harusnya sudah bisa buat modal tanam lagi. “Ini malah panen kurang baik," ucapnya.
Hal senada diungkapkan petani cabai lain, Paryanto. Dia mengatakan, kegagalan panen dirasakan sebagian besar para petani cabai di sepanjang pantai selatan. Musim ini kacau, harusnya bisa jual 70-80 per kilogram. “Sekarang malah gagal panen," ucapnya.
Paryanto mengungkapkan, saat ini dirinya bersama petani lain hanya bisa pasrah. Sebagian petani kini mencoba menyelamatkan tanaman dari ancaman hama patek. Bahkan petani juga terpaksa melakukan panen dini sebelum masa usia panen. "Timbang tidak dapat uang sama sekali, dipetik pas masih hijau. Jual seadanya saja," ungkap dia. (fid/din)
Editor : Din Miftahudin