RADAR JOGJA - Kisah memilukan datang dari sebuah desa di Mauk, Kabupaten Tangerang.
Seorang wanita dengan keberanian luar biasa mengungkapkan pengalaman traumatis yang dialaminya selama menderita skizofrenia sejak Agustus-Oktober 2023.
Wanita tersebut mengunggah videonya hingga viral di akun TikTok @EIKO Enterprise, ia menceritakan bagaimana dirinya dipasung, dianiaya, dan menjadi korban pencabulan.
Dalam pengakuannya, wanita tersebut menjelaskan bahwa ia dipaksa tinggal di tempat yang ia rasakan sebagai neraka penyiksaan.
Ia menegaskan bahwa kondisinya bukan karena kerasukan makhluk halus, seperti yang diyakini keluarganya, melainkan akibat depresi yang memerlukan perhatian medis.
"Saya bukan kerasukan, jiwa saya terganggu. Saya butuh bantuan, bukan penyiksaan," ujarnya dengan penuh kepedihan.
Terpenjara dalam Pasungan dan Derita
Wanita itu menceritakan betapa kejamnya perlakuan yang ia terima.
Ia dikurung dalam ruangan yang sempit dan pengap. Setiap harinya, ia hanya diberi makan satu piring mie goreng dan satu cup air mineral, membuat kondisi fisiknya semakin melemah.
"Ruangan itu gelap dan menyesakkan. Saya seperti hidup dalam mimpi buruk yang tak berujung," ungkapnya.
Tak hanya menghadapi kelaparan dan penganiayaan fisik, wanita tersebut juga harus menanggung luka batin akibat menjadi korban pencabulan.
Pengalaman kelam ini menghancurkan masa mudanya dan membuatnya terjebak dalam trauma yang mendalam.
Dalam postingannya itu, wanita yang mengaku telah berusia 30 tahun ini menuliskan pesan mendalam lewat pengalamannya. Pesan tersebut ditujukan kepada orang tuanya yang salah dalam memberikan pola asuh dalam keluarga.
"Pak, bu, seandainya kalian sudah pelajari ilmu parenting sebelum menikah, pastinya kalian gak akan membawa aku ketempat penyiksaan ini.
Aku bukan kerasukan jin atau setan, tapi sadarlah wahai orang tua, anakmu ini 'Depresi' jiwanya terganggu. Kenapa kalian tidak bawa aku ke 'Psikiater?/RSJ'? Kalian malu?
Begitu pun aku yang pernah habis-habisan ke IGD diinfus karena lambung dan ke Poli Psokiatri RSPI Puri karena Psikosomatis dari tahun 2016.
Selama ini aku banyak memendam rasa sakit, aku seorang anak yang sudah berusia 30 tahun, anakmu cerdas pak, bu, anakmu kritis, bukan membangkang.
Baca Juga: PSBS Biak vs Persib Bandung, Emral Abus Bertekad Hentikan Tren Tak Terkalahkan Pangeran Biru
Jika kalian tidak bahagia di pernikahan, itu menjadi luka bagi anakmu melihat orangtuanya tidak harmonis, penuh ego, banyak yang ditutup-tutupi.
Apa berharganya gelar, pencapaian, kalau keluarga tidak cemara. Sia-sia
Aku sering dibilang lebay, kurang ibadah, kurang zikir, padahal tanpa kalian lihat aku sangat taat.
Saat itu hampir setiap hari ku duha dan tahajjud.
Tapi.. mungkin ini semua jawaban semesta.
Hari pembalasan itu 'nyata'.
Pak,bu, aku memilih menghindar dari kalian karena ini sudah sangat kejam untuk aku sebagai perempuan.
Aku hampir mati dibunuh ego kalian.
Anggap saja sudah meninggal ya pak..bu..
Jangan pernah sebut namaku ke siapapun, anggap kalian tidak pernah punya anak seperti aku, supaya aku tidak jadi beban hidup kalian. Selama-lamanya.
Mauk, Agustus - Oktober 2023"
Baca Juga: Kebakaran di Los Angeles Semakin Parah, Kerugian Ditaksir Ratusan Miliar Dollar AS
Memahami Skizofrenia
Skizofrenia adalah gangguan mental serius yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku.
Penderita sering mengalami delusi, halusinasi, dan disorganisasi berpikir. Penyebabnya dapat mencakup kombinasi faktor genetik, kimia otak yang tidak seimbang, dan stres lingkungan.
Perawatan yang efektif biasanya melibatkan kombinasi obat antipsikotik dan terapi psikologis.
Stigma yang melekat pada skizofrenia sering kali memperburuk kondisi penderita, yang seharusnya mendapatkan dukungan penuh dari keluarga dan masyarakat.
Gelombang Dukungan dari Publik
Pengakuan wanita ini memicu simpati luas di media sosial.
Ribuan warganet menyuarakan dukungan moral dan menyerukan agar praktik pemasungan dihapuskan selamanya.
Banyak yang berharap agar kisah ini menjadi titik balik dalam memperlakukan penderita gangguan mental dengan kasih sayang dan penghormatan yang layak.
“Saya berbagi kisah ini agar dunia tahu, penderita gangguan jiwa juga manusia yang berhak hidup dengan martabat,” ujar wanita tersebut di akhir videonya.
Saat ini, ia menjalani perawatan intensif untuk memulihkan kesehatan mental dan fisiknya.
Masyarakat berharap kasus ini menjadi pelajaran penting bagi keluarga dan lingkungan dalam memahami dan mendukung orang dengan gangguan mental. (Adam Jourdi Alfayed)
Editor : Meitika Candra Lantiva