Penggunaan energi terbarukan dalam dua dekade terakhir membuat minyak tanah kini nyaris hilang dari peredaran. Program penggunaan elpiji bersubsidi dari pemerintah sekitar tahun 2007 membuat minyak tanah semakin tersingkir. Pun demikian kondisi ini juga turut mengancam para pedagang yang dulu menggantungkan hidup dari berjualan minyak tanah.
Di Kebumen sekarang sudah sangat sulit menjumpai warung yang menyediakan minyak tanah. Pedagang yang dulu berjaya dari jualan minyak tanah, justru kini gulung tikar. Mereka harus menanggung konsekuensi dengan adanya peralihan energi massal.
Salah satu pemilik warung kelotongan Muhtadi, 53, mengaku, penjualan minyak tanah kini tak selaris dulu. Di era tahun 1990-an dirinya mampu menjual hingga 200 liter dalam sepekan. Namun sekarang untuk menjual 10 liter dalam sebulan saja cukup sulit. "Walaupun jarang yang beli saya masih nyanding (jualan). Tapi ya itu laku lama banget," jelasnya, Jumat (3/1).
Dia mengungkapkan, penjualan minyak tanah tidak lagi bersifat konvensional. Melainkan dicari hanya untuk kebutuhan tertentu. Seperti untuk menyalakan oncor (obor) pada momentum hari besar Islam. "Dulu saya bisa habis satu drum seminggu. Sekarang ramai dicari pas malam takbiran," tambah Muhtadi.
Dia mengungkapkan, dari sekian banyak warung di Kecamatan Kebumen, warung yang menjual minyak tanah kini hanya hitungan jari. Itu pun tidak setiap hari warung itu menyediakan minyak tanah. "Kalau agennya masih ada. Saya juga ambil di agen. Tapi warung yang berani jualan minyak jarang," jelasnya.
Selain menjadi barang langka, harga minyak tanah saat ini terbilang cukup mahal. Dia menjual per botol dengan harga Rp 13 ribu. Hal ini menjadi faktor minyak tanah tak lagi diminati. "Sekarang beli sudah bentuk botolan. Satu botol air mineral sedang itu harganya hampir sama dengan Pertamax," ungkapnya. (fid/laz)
Editor : Din Miftahudin