MUNGKID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang mencatat ada sebanyak 457 kejadian bencana dalam kurun waktu satu tahun. Dari jumlah itu, paling banyak didominasi oleh tanah longsor sejumlah 215 kejadian dan cuaca ekstrem sebanyak 138 kejadian. Jumlah itu meningkat dibanding 2023 sebanyak 429 bencana.
Baca Juga: Sungai Pringtutul Meluap, Rumah Warga Terendam Banjir, Sebanyak 34 Jiwa Terdampak
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kabupaten Magelang M Mansur Wachdani mengutarakan, total kejadian bencana itu hampir merata di seluruh kecamatan di wilayahnya. "Seluruh kejadian bencana didominasi bencana hidrometeorologi basah, seperti tanah longsor dan angin kencang," katanya, Kamis (2/1).
Berdasarkan jenisnya, tanah longsor menjadi bencana alam yang paling sering melanda sepanjang 2024. Tercatat ada 215 kejadian tanah longsor di Kabupaten Magelang. Kemudian, cuaca ekstrem mencapai 138 kejadian. Disusul kebakaran bangunan sebanyak 51 kejadian.
Baca Juga: 3,2 Juta Wisatawan Kunjungi Magelang, Ketep Pass dan Negeri Kahyangan Jadi Primadona
Selanjutnya, kategori kejadian lain seperti rumah roboh, laka air dan kejadian non alam lainnya sebanyak 29 kejadian. Lalu, banjir ada sebelas kejadian. Selain itu, Kabupaten Magelang sempat terjadi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan masing-masing sembilan dan empat kejadian.
Dia menambahkan, dari seluruh kejadian bencana tersebut mengakibatkan 309 kerusakan rumah. Dengan tiga kategori kerusakan, yakni ringan, sedang, dan berat. Rinciannya, 248 rusak ringan, 45 rusak sedang, dan 16 rusak berat. Selain itu juga terdapat dua korban jiwa meninggal dan sebelas luka-luka.
Mansur menyebut, wilayah yang paling sering dilanda bencana adalah Kecamatan Salaman, Borobudur, dan Sawangan. Menurutnya, hal itu disebabkan kondisi geografis di wilayah tersebut. "Itu merupakan wilayah dengan jumlah frekuensi kejadian paling tinggi di Kabupaten Magelang. Berdasarkan kajian, memang masuk kawasan rawan bencana," ujarnya.
Di sisi lain, lanjut dia, BPBD telah melakukan berbagai upaya mitigasi. Baik struktural maupun non struktural dan akan terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Upaya mitigasi itu seperti sosialisasi dan edukasi tentang rawan bencana kepada warga. Selain itu, pemasangan Early Warning System (EWS) tanah longsor juga sudah dilakukan. Kemudian penanaman rumput vetiver.
Baca Juga: Jaringan Pipa Terputus Akibat Longsor, Warga Grabag Magelang Andalkan Distribusi Air
Karena itu, dia mengimbau kepada warga yang berada di wilayah rawan bencana agar selalu waspada. Kewaspadaan harus terus dilakukan hingga puncak musim hujan yang diproyeksikan berlangsung hingga Februari 2025. (aya)
Editor : Din Miftahudin