RADAR JOGJA - Setelah sempat menjadi perhatian publik karena didatangi Gus Miftah, Sunhaji, penjual es teh viral, kembali mengejutkan publik.
Kali ini, ia menyampaikan permohonan mendalam kepada Presiden Prabowo Subianto, disertai tangisan haru yang membuat banyak pihak bertanya-tanya.
Permohonan Sunhaji bukan tanpa alasan. Ia mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap keputusan Gus Miftah yang mundur dari kabinet Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming.
Dengan busana putih khasnya, Sunhaji menyampaikan bahwa ia sudah memaafkan Gus Miftah dan berharap Presiden Prabowo menolak pengunduran diri pendakwah asal Yogyakarta tersebut.
“Saya Sunhaji, menyayangkan Gus Miftah mundur dari kabinet,” katanya dalam video yang beredar tersebut.
Ia menambahkan bahwa pengunduran diri Gus Miftah tidak perlu diterima oleh presiden.
“Saya memohon kepada Bapak Prabowo untuk menolak pengunduran diri Gus Miftah,” ujarnya sembari menangis.
Meski Sunhaji terlihat tulus, beberapa pihak justru memandang skeptis aksinya.
Di media sosial, spekulasi pun bermunculan. Banyak yang menduga bahwa Sunhaji diminta untuk melakukan hal tersebut oleh pihak tertentu.
Hingga artikel ini diterbitkan, belum ada klarifikasi dari Sunhaji atau pihak lain terkait viralnya permohonan tersebut.
Sementara itu, perhatian publik justru mulai beralih pada sosok pengganti Gus Miftah.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah mengungkapkan bahwa ia segera mencari figur baru untuk mengisi posisi Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama.
Beberapa nama mencuat sebagai kandidat potensial. Rocky Gerung, filsuf sekaligus pengamat politik, menjadi salah satu nama yang paling banyak dibicarakan.
Ia dinilai mampu mengelola kerukunan antarumat beragama dengan pendekatan intelektual yang inklusif.
Nama lainnya adalah Yaqut Cholil Qoumas, mantan Menteri Agama di era Jokowi, yang dikenal mampu menjembatani dialog lintas agama.
Selain itu, Irfan Hakim, Ali Mochtar Ngabalin, hingga pendakwah muda Ustaz Adi Hidayat turut masuk dalam perbincangan.
Nama-nama seperti Dr. Gamal Albinsaid, Alissa Wahid, hingga Ghazi Abdullah Muttaqien juga disebut-sebut layak mempertimbangkan jabatan tersebut.
Posisi Utusan Khusus Presiden ini bukanlah peran ringan. Jabatan ini menuntut kemampuan menciptakan dialog lintas agama, mengatasi konflik sektarian, hingga menjaga harmoni di tengah keberagaman masyarakat.
Sosok yang terpilih harus memiliki wawasan mendalam tentang dinamika sosial dan agama di Indonesia, sekaligus mampu menjalin komunikasi yang efektif dengan semua pihak.
Meskipun banyak nama bermunculan, keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden Prabowo Subianto.
Publik kini menunggu siapa yang akan dipercaya untuk melanjutkan tugas besar ini, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat dalam mewujudkan harmoni beragama di Indonesia.
Editor : Winda Atika Ira Puspita