Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dewi Harlas, Mainan Gigitan Anjing Buatannya Banjiri Pasar Amerika dan Eropa, Punya 40 Karyawan Manfaatkan Limbah Kayu Kopi dan Sabut Kelapa

Adib Lazwar Irkhami • Senin, 25 November 2024 | 04:18 WIB

 

 

 

EKSPOR: Dewi Harlas (baju hitam) saat menerima kunjungan dari Pemkab Purworejo di tempat produksi dog choo miliknya di Desa Popongan, Banyuurip.
EKSPOR: Dewi Harlas (baju hitam) saat menerima kunjungan dari Pemkab Purworejo di tempat produksi dog choo miliknya di Desa Popongan, Banyuurip.

 

 

 

Limbah kayu kopi dan sabut kelapa rupanya bisa menjadi barang bernilai ketika berada di tangan yang tepat. Lewat Dewi Harlas, limbah itu menjadi karya berupa mainan anjing yang bernilai tinggi. Bahkan produk-produknya sudah di ekspor ke luar negeri.

 

JIHAN ARON VAHERA, Purworejo

 

Berawal dari mendengar keluhan para petani kopi di Temanggung, lalu muncullah ide untuk membuat dog choo atau mainan gigit-gigitan anjing. Kini dia memproduksi sekitar 70 model berupa stik, choco roop toys, cinnamon wood donut, coffee wood donut, slice coffee wood, hingga slice cinnamon wood. Harganya bervariasi, mulai  5 dolar AS atau sekitar Rp 80 ribu hingga 50 dolar AS atau sekitar Rp 800 ribu.

"Para petani kopi itu mengeluh karena kayu kopi yang mengalami peremajaan tidak dipakai," kata Dewi pada Jumat (22/11). Daripada hanya dimanfaatkan untuk kayu bakar, ia kemudian memutar otak dan mencari tahu tentang pemanfaatan limbah kayu kopi. Ternyata, limbah itu bisa menjadi handicraft dan produk dog choo.

Seiring waktu, usahanya semakin maju. Kini Dewi juga sudah memiliki brand sendiri yaitu Eco Choo. Eco Choo menjadi merek dagang yang bergerak di bidang manufaktur binaan PT Astra. "Belum genap satu tahun, baru beroperasi sejak Maret 2024," kata wanita asal Desa Popongan itu.

Awal merintis, operasional usahanya hanya di Desa Popongan, Banyuurip, Purworejo saja. Namun karena semakin berkembang, tempat penyimpanan bahan baku dan packing ada di Desa Winong, Gebang, Purworejo. Dia memiliki 40 karyawan. Ditambah sekitar 100 ibu rumah tangga dari sekitar Desa Winong dan Popongan. Mereka berkerja untuk mengerok kayu kopi dan membuat ikatan tali dari sabut kelapa.

 

EKSPOR: Dewi Harlas (baju hitam) saat menerima kunjungan dari Pemkab Purworejo di tempat produksi dog choo miliknya di Desa Popongan, Banyuurip.
EKSPOR: Dewi Harlas (baju hitam) saat menerima kunjungan dari Pemkab Purworejo di tempat produksi dog choo miliknya di Desa Popongan, Banyuurip.

Berkat keuletannya, Dewi yang menjabat direktur Eco Choo itu sudah berulang kali melakukan ekspor. Seperti ke Amerika, Inggris, hingga Belgia. Saat ini, dia juga tengah menjalin kedekatan dengan negara-negara lain. Untuk di Indonesia sendiri, pasarannya tidak begitu bagus karena orang Indonesia lebih bersahabat dengan kucing. "Paling Bali atau daerah timur. Wajar, karena Indonesia mayoritas penganut muslim," tambahnya.

Dari situ, ide ekspor ke luar negeri muncul. Mengingat, di negara barat setiap rumah memelihara anjing. Akhirnya, dia mulai membuat sampel produk dan menawarkan ke media promo serta mencari distributor dari luar negeri.

Kali pertama ekspor produk ke Amerika sekitar awal November 2024. Namun saat itu masih dalam skala kecil. "Sekarang permintaan tinggi, tapi sayangnya ketersediaan bahan baku di Purworejo masih kurang," ungkapnya.

Meski demikian, dia selalu optimistis agar bisnisnya terus berkembang. Apalagi, Pemkab Purworejo memperhatikan usahanya itu. Bahkan pada Selasa (19/11) lalu, Pjs Bupati Purworejo Endi Faiz Effendi datang untuk melepas ekspor produknya ke Belgia.

Produk yang diekspor berupa produk coffee wood dan coconut rope dog chew dengan total valuasi Rp 22,5 miliar. Produk-produk itu diekspor oleh Desa Sejahtera Astra (DSA) Purworejo yaitu mengekspor 30 kontainer coffee wood dan coconut rope dog chew ke Belgia selama satu tahun.

Menurut Dewi, kontainer yang dilepas bukan hanya sekadar muatan barang saja. Tetapi, sebuah persembahan untuk devisa negara dan kontribusi dalam memperkuat ekonomi Indonesia, khususnya dalam sektor ekspor produk UMKM.

Endi Faiz Effendi menyebut, ekspor produk dog choo itu menjadi bukti produk lokal memiliki daya saing di pasar internasional. Menurutnya, coffee wood dan coconut rope dog chew tidak hanya mencerminkan kreativitas dan inovasi, tetapi juga menunjukkan sumber daya alam lokal dapat diolah menjadi produk berkualitas tinggi yang bernilai ekspor.

"Kami berkomitmen terus mendukung perkembangan industri lokal, baik melalui fasilitasi pelatihan, penyediaan akses pasar, maupun kemudahan regulasi," tuturnya. Endi berharap, keberhasilan ekspor itu menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lainnya di Kabupaten Purworejo. (han/laz)

 

Editor : Din Miftahudin
#produk ekspor #Ekonomi Kreatif (Ekraf) #potensi ekonomi #Purworejo