RADAR JOGJA - Kisah memilukan ini dibagikan oleh seorang dosen Universitas Padjadjaran, Ira, melalui akun Instagram pribadinya, @ibuiramira.
Ia menceritakan pengalaman menyayat hati tentang seorang mahasiswa yang menipu ayahnya, sebuah peristiwa yang terjadi sekitar 14 tahun lalu saat dirinya masih menjadi dosen muda.
Kala itu, seorang pria paruh baya datang ke program studi tempat Ira mengajar untuk menanyakan ijazah anaknya.
Ia mengaku bahwa ijazah anaknya belum diterima karena revisi tugas akhir belum selesai.
Mendengar hal tersebut, pihak kampus segera memeriksa data akademik mahasiswa yang dimaksud.
Hasilnya sungguh mengejutkan, mahasiswa tersebut ternyata tidak pernah menyelesaikan kuliahnya.
Bahkan, ia hanya mengikuti beberapa mata kuliah sebelum memutuskan berhenti tanpa kabar.
Fakta ini menjadi pukulan berat bagi sang ayah yang selama bertahun-tahun percaya bahwa anaknya sedang menempuh pendidikan.
Pria itu tampak terpukul mendengar kenyataan tersebut. Selama ini, putrinya berpura-pura pergi ke kampus setiap hari, sementara dirinya bekerja keras membanting tulang demi membiayai pendidikan anaknya.
Ternyata, uang yang ia berikan tidak pernah digunakan untuk keperluan kuliah.
Ira mengisahkan bagaimana sang ayah tak kuasa menahan tangis setelah mengetahui kebenaran itu.
Ia menggambarkan sosok pria tersebut yang datang dengan jaket cokelat lusuh dan sandal usang.
Saat masuk ke ruang program studi, pria itu bahkan membuka sandalnya sebagai bentuk penghormatan.
Para dosen meminta ia kembali mengenakan sandalnya, tetapi kehormatannya sudah tergambar dari sikapnya.
Lebih menyedihkan, sang ayah mengendarai vespa tua yang sulit dinyalakan saat hendak pulang.
Momen ini meninggalkan bekas mendalam bagi Ira dan rekan-rekan dosennya.
"Setelah pria itu pergi, saya menangis. Mungkin kalian juga akan menangis jika berada di posisi saya," tulis Ira.
Ia menutup ceritanya dengan penuh empati, mengatakan bahwa raut wajah pria tersebut masih terpatri jelas dalam ingatannya.
Cerita ini viral di media sosial, menyentuh hati ribuan netizen yang turut merasakan kesedihan dan keprihatinan mendalam.