RADAR JOGJA – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan tekadnya untuk menekan nilai tukar dolar AS dari Rp 15.000 menjadi Rp 5.000 dalam 5 hingga 10 tahun ke depan.
Langkah ambisius ini sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.
Salah satu strategi utama untuk mewujudkan visi ini adalah hilirisasi enam komoditas pertanian strategis, yaitu sawit, cengkeh, kelapa, kakao, kopi, dan lada.
Komoditas tersebut dipilih karena memiliki potensi besar, baik dalam produksi maupun ekspor, sehingga dapat menciptakan nilai tambah yang signifikan.
Hilirisasi Komoditas Pertanian: Nilai Tambah Berlipat
Pemerintah menargetkan nilai ekspor dari keenam komoditas ini mencapai Rp 600 triliun.
Dengan proses hilirisasi, nilai tambahnya diperkirakan meningkat hingga 20 kali lipat, atau sekitar Rp 12 ribu triliun secara keseluruhan.
Hal ini diyakini dapat memperkuat posisi rupiah terhadap dolar.
Saat ini, banyak produk pertanian Indonesia diekspor dalam bentuk mentah.
Misalnya, kakao mentah hanya dihargai Rp 26.000 per kilogram.
Namun, setelah diolah menjadi cokelat, harganya melonjak hingga Rp 1 juta per kilogram.
Baca Juga: Prediksi Turki vs Wales Uefa Nations League Minggu 17 November Kick Off 02.45, H2H dan Susunan Pemain, Siapa Pemenangnya?
Hilirisasi bertujuan agar nilai tambah tersebut dinikmati oleh Indonesia, bukan negara tujuan ekspor.
Strategi Peningkatan Produktivitas Pertanian
Untuk mendukung hilirisasi, pemerintah akan mengintensifikasi lahan di Pulau Jawa guna meningkatkan hasil pertanian, sementara ekstensifikasi lahan dilakukan di luar Jawa.
Hilirisasi komoditas sawit, misalnya, juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk kemandirian energi.
Dalam hal ini, pemerintah berencana meningkatkan campuran biodiesel dalam minyak solar dari 35 persen menjadi 60 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Potensi Pertambangan: Kunci Kemandirian Ekonomi
Selain sektor pertanian, Presiden Prabowo juga menaruh perhatian besar pada sektor pertambangan.
Langkah ini telah dimulai sejak era Presiden Joko Widodo, termasuk pengambilalihan saham Freeport melalui BUMN Holding Industri Pertambangan, Mind ID.
Mind ID, yang membawahi perusahaan seperti Antam, Bukit Asam, Inalum, Timah, dan Freeport, memberikan kontribusi signifikan terhadap negara.
Pada September 2024, Mind ID telah menyumbang Rp 27 triliun, dengan potensi mencapai Rp 30 triliun hingga akhir tahun.
Kini, hilirisasi dan industrialisasi hasil tambang menjadi fokus utama.
Dengan langkah ini, sumber daya tambang Indonesia, seperti mineral dan batu bara, dapat dijual dengan nilai lebih tinggi.
Mengurangi Ketergantungan pada Impor
Selama ini, ketergantungan pada impor menguras devisa negara hingga Rp 500 triliun per tahun.
Melalui hilirisasi di sektor pertanian dan pertambangan, pemerintah berupaya memperkuat perekonomian domestik sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk luar negeri.
Tekad ini juga menjadi langkah nyata untuk mewujudkan impian Presiden Prabowo, yaitu nilai tukar rupiah yang lebih stabil terhadap dolar AS.
Jika terealisasi, visi ini akan menjadi tonggak sejarah baru bagi perekonomian Indonesia. (Putri Gesa Yanuarizki)