Di balik Alasan Pengusaha Susu di Pasuruan Membuang Hasil Perah Susu Sapi, Imbas dari Produk Susu Impor Yang Lebih Diandalkan
Meitika Candra Lantiva• Sabtu, 9 November 2024 | 16:20 WIB
Ilustrasi Petani yang nekat membuang susu hasil panen mereka lantaran industri pengolah susu sapi membatasi pasokan susu lokal.
RADAR JOGJA - Beredar sebuah video dimana seorang petani susu di Pasuruan, Jawa Timur nekat membuang hasil susu perahnya lantaran tidak diterima oleh pabrik pengolahan susu di sana.
Pabrik yang dituju diduga menerapkan pembatasan jumlah penerimaan susu perah lokal, mengakibatkan sejumlah petani susu sapi perah tidak dapat mendistribusikan hasil dari susu perahnya.
Sebuah dugaan kuat muncul dari industri susu di Indonesia yang masih ketergantungan terhadap produk susu impor beberapa tahun terakhir.
Data di Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menyebutkan pemenuhan kebutuhan susu impor di Indonesia mencapai 78%, berbeda dengan pemenuhan kebutuhan susu lokal yang mencapai 22% saja.
Lantas apa yang menyebabkan susu lokal kalah saing dengan susu impor? Setidaknya ada beberapa alasan yang mempengaruhi kebutuhan impor di Indonesia terkhusus dari susu.
Yang pertama adalah peningkatan konsumsi susu sapi di Indonesia semakin meningkat.
Hal itu didukung dengan program yang hendak dikampanyekan presiden kita saat ini, Prabowo Subianto melalui program makan gratis termasuk susu.
Otomatis akan berdampak pada pemenuhan kebutuhan susu yang massif.
Meskipun begitu faktor yang satu ini terbilang lemah lantaran kurangnya bukti yang menunjukkan teknologi Indonesia tidak mumpuni mengolah susu lokal.
Aksi membuang hasil perahan susu sapi seperti yang terjadi di Pasuruan memang cukup memilukan.
Kurangnya pemanfaatan sumber daya lokal seperti mereka menjadi PR tersendiri bagi pemerintah.
Padahal, secara geografis tanah di Indonesia cukup baik untuk membudidayakan hewan perah sehingga wajar bila pengusaha ternak juga banyak mengambil susu sapi sebagai komoditas tambahan.
Tanpa adanya langkah pemanfaatan sumber daya lokal, Indonesia mau tidak mau akan tetap ketergantungan pada hasil impor demi memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. (Muhammad Malik Nadzif)