Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Memperingati Hari Sumpah Pemuda: Mengenang Aktivis Bimo dan Herman, Mahasiswa FISIP Unair yang Hilang Pada 1998

Meitika Candra Lantiva • Selasa, 29 Oktober 2024 | 18:40 WIB
Genoveva Misiati, Ibu Petrus Bima Anugerah memegang foto Bimo.
Genoveva Misiati, Ibu Petrus Bima Anugerah memegang foto Bimo.

RADAR JOGJA – Setelah peristiwa BEM Fisip Universitas Airlangga (Unair) yang sempat dibekukan oleh dekan karena karangan bunga satirnya yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto serta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, publik kembali teringat pada aktivis mahasiswa FISIP Unair yakni Bimo dan Herman yang berjuang dan berkorban di era reformasi 1998.

Dua nama yang masih menjadi tanda Tanya dalam sejarah perjuangan mahasiswa di Indonesia yakni Petrus Bimo Anugrah dan Herman Hendrawan mahasiiswa Universitas Airlangga Fakultas Ilmu Sosial dan Politik yang dinyatakan hilang pada Mei 1998 dan belum ditemukan hingga saat ini.

Keberanian mereka dalam menyuarakan kebenaran membuat mereka dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap rezim otoriter Presiden Soeharto di masa itu.


Bimo atau kerap disapa ‘Bimpet” mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi dan Herman mahasiswa jurusan Politik merupakan seorang aktivis pro demokrasi yang terafiliasi oleh Partai Rakyat Demokrasi (PRD) dan terlibat dalam pembentukan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang aktif dalam gerakan mahasiswa dalam menuntut reformasi.


Mereka menuntut reformasi di tengah kondisi ekonomi yang memburuk serta ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah orde baru.

Bersama ribuan mahasiswa lain dari berbagai penjuru Indonesia, kedua mahasiswa FISIP Unair tersebut ikut serta dalam aksi menuntut turun Presiden Soeharto pada 1998.


Hilangnya Bimo dan Herman menjadi bagian dari serangkaian kasus penculikan secara paksa dan penghilangan paksa yang menimpa dan melibatkan 11 aktivis lain yang pro-reformasi pada tahun 1998.

Menurut Sereida Tambunan yakni kader PRD, Bimo hilang pada 1 April 1998 seteah rapat di Grogol.

Ucapan terakhir yang diberikan Bimo kepada Sereida adalah jika dia tidak bisa dipager (media komunikasi mereka pada saat itu) satu jam setelah pertemuan di Grogol, berarti kondisinya dalam bahaya.

Jika satu jam setelahnya masih kesulitan dihubungi, maka kabarilah teman-temannya bahwa dia menghilang.


Sedangkan Herman hilang pada saat setelah jumpa pers atau koneferensi pers Komitee Nasional Perjuangan Demokrsi (KNPD) di kantor Yayasan Lembaga.

Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) pada 12 Maret 1998.

Ia diduga diculik oleh Tim Mawar dalam operasi militer oleh Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Kasus tersebut hingga kini belum menemukan titik terang.

Upaya hukum yang dilakukan oleh keluarga serta organisasi HAM terus dilakukan, namun penanganan kasus ini tidak kunjung mendapatkan kepastian.

Di hari Sumpah Pemuda, ini bukan hanya sebagai hari mengenang perjuangan mereka, namun juga sebagai momen refleksi semangat perubahan serta pengingat akan pentingnya peran para pemuda Indonesia dalam menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan masa depan bangsa.
(Isti Nurul Hidayah)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Mahasiswa #hilang #presiden soeharto #Hari Sumpah Pemuda #Mengenang #fisip unair #1998 #sejarah perjuangan mahasiswa #Aktivis Bimo dan Herman #aktivis #Indonesia