RADAR JOGJA – Perusahaan tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk atau lebih populer dengan nama PT Sritex dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri (PN) Niaga Semarang (23/10/2024).
Dilansir Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Semarang, PT Sritex dinilai lalai dalam memenuhi kewajiban pembayaran kepada para pemohon berdasarkan putusan homologasi pada 25 Januari 2022.
Akan tetapi, bagaimana sepak terjang PT Sritex hingga menjadi raja tekstil dari Indonesia yang diakui berbagai negara?
Mengutip dari Sritex, perusahaan ini bermula dari usaha perdagangan tekstil yang didirikan oleh HM Lukminto pada 1966 di Pasar Klewer, Surakarta dengan nama UD Sri Redjeki.
Pada 1968, Sritex membuka pabrik di Joyosuran, Surakarta untuk memproduksi kain mentah dan bahan putihan.
Pada 1978, nama dan badan usaha UD Sri Redjeki diubah menjadi PT Sri Rejeki Isman yang terdaftar dalam Kementerian Perdagangan.
Empat tahun setelahnya, PT Sri Rejeki Isman mengembangkan usaha dengan mendirikan pabrik penenunan pertamanya.
Pada 1992, PT Sri Rejeki Isman memperluas pabriknya dengan empat lini produksi, yaitu pemintalan, penenunan, sentuhan akhir, dan busana.
Dua tahun berikutnya, PT Sri Rejeki Isman menjadi produsen seragam militer untuk NATO dan tentara Jerman.
Sritex selamat dari Krisis Moneter pada tahun 1998 dan pada tahun 2001, Sritex berhasil melipatgandakan pertumbuhannya sampai 8 kali lipat dibandingkan pada tahun 1992.
Persaingan global yang semakin meningkat, pada 2012 Sritex berhasil menggandakan pertumbuhan dan kinerjanya dibandingkan pada tahun 2008.
Pada 2013, PT Sri Rejeki Isman Tbk secara resmi terdaftar sahamnya di Bursa Efek Indonesia.
Pada 2018, PT Sritex mengakuisisi PT Primayudha Mandirijaya dan PT Bitratex Industries untuk meningkatkan kapasitas pemintaiannya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah dalam mengatasi pandemi COVID-19 pada tahun 2020, PT Sritex memproduksi dan medistribusikan 45 juta masker dalam waktu tingga minggu.
Pada tahun yang sama, perusahaan ini menorehkan sejarah baru dengan melakukan ekspor perdana produknya ke Filipina.
PT Sritex memusatkan kegiatan produksinya di Sukoharjo. Selain dari warga Sukoharjo dan warga Indonesia, PT Sritex juga mempekerjakan sejumlah tenaga profesional dari luar, seperti Korea Selatan, Filipina, India, Jerman, dan Tiongkok.
Klien terbesar Sritex antara lain H&M, Walmart, Kmart, dan Jones Apparel.
Keberhasilan tersebut diperoleh karena adanya visi dan misi yang diterapkan oleh PT Sritex sebagai berikut.
Visi:
Menjadi produsen tekstil dan garmen global terbesar, paling terkemuka, dan terpercaya.
Misi:
1. Untuk memberikan produk paling inovatif sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen.
2. Menjadi pengusaha yang menguntungkan dan berorientasi pada pertumbuhan untuk semua kepentingan pemangku kepentingan.
3. Untuk menyediakan dan memelihara lingkungan kerja yang kondusif bagi karyawan kami.
4. Memberikan kontribusi dan peningkatan nilai bagi masyarakat sekitar. (Yasminun Ardine Issudibyo)