Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenang Peristiwa yang Mengguncang Dunia Sepak Bola, 1 Oktober 2022: Dua Tahun Pasca Tragedi Kanjuruhan, Keadilan Masih Belum Jelas

Meitika Candra Lantiva • Selasa, 1 Oktober 2024 | 22:06 WIB
Tragedi Kanjuruhan, 1 Oktober 2024.
Tragedi Kanjuruhan, 1 Oktober 2024.

RADAR JOGJA - Masih ingat tragedi Kanjuruhan? peristiwa ini terjadi dua tahun lalu.

Peristiwa ini dikenal sebagai tragedi mengerikan yang mengguncang dunia sepak bola Indonesia di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Tepatnya pada 1 Oktober 2022.

Insiden tragis Kanjuruhan tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga meninggalkan trauma bagi para saksi mata dan pendukung sepak bola Tanah Air.

Pada malam itu, pertandingan sepak bola yang seharusnnya dipenuhi euforia berakhir dengan tragis.

Setelah laga antara Arema FC dan Persebaya Surabaya, kerusuhan pecah di dalam stadion.

Dalam usaha mengendalikan situasi, apparat keamanan melepaskan gas air mata ke arah tribun penonton.

Namun, langkah ini justru memperburuk keadaan. Ribuan penonton, termasuk wanita dan anak-anak, panik dan berlarian menuju pintu keluar stadion untuk menyelamatkan diri.

Pintu-pintu stadion, terutama pintu 13 menjadi titik pusat kekacauan.

Banyak penonton terjebak dan terperangkap di pintu yang terlalu sempit untuk menampung jumlah orang yang begitu banyak.

Akibat insiden ini, 135 orang kehilangan nyawa, sebagian besar disebabkan oleh kekurangan oksigen dan trauma fisik akibat terjepit.

Di samping itu, banyak orang lainnya mengalami luka, baik fisik maupun psikologis.

Namun, dua tahun setelah tragedi tersebbut,keluarga korban terus berjuang untuk mendapatkan keadilan.

Banyak di antara mereka yang merasa bahwa upaya penegakan keadilan masih jauh dari memadai.

Seruan “Menolak Lupa” bahkan disuarakan oleh ribuan pengguna media sosial sebagai bentk perlawanan terhadap tragedi Kanjuruhan.

Ketua Yayasan Keadilan, Devi Atok mendesak agar proses hukum terkait tragedi Kanjuruhan dapat dilanjutkan kembali.

Devi Atok adalah ayah dari dua korban yang meniggal dalam tragedi Kanjuruhan, NDR (16) dan NDB (13).

Trauma akibat kehilangan dua anaknya yang tercinta masih sangat terasa. (Ahmad Fatkhurohman)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Stadion Kanjuruhan #insiden tragis #korban #keadilan #keluarga korban #Arema FC dan Persebaya Surabaya #hukum #pintu stadion #Sepak Bola #dunia #Peristiwa