RADAR JOGJA - Harga kubis atau kol mencatatkan rekor baru dengan mencapai angka 400 rupiah per kilogram di tingkat petani.
Hal itu dikeluhkan akun X @LikYoko, petani gurem Gunung Andong Jawa Tengah.
Akun tersebut menyampaikan saat ini harga kubis di tingkat petani menyentuh angka Rp 400 per Kilogram (Kg).
"Kobis 400/kg Harga terendah dalam 15 tahun terakhir," tulis @LikYoko di akun X peribadinya, Kamis (26/9/2024).
Menurut akun X @LikYono, penurunan harga ini disebabkan oleh meningkatnya pasokan yang berhasil panen setelah cuaca membaik.
“Kami melihat banyaknya pasokan dari daerah-daerah penghasil kobis, sehingga harga bisa turun," tulisnya.
Penurunan harga ini menarik perhatian banyak netizen dikalangan aplikasi X.
Banyak netizen yang berkomentar menyayangkan harga tersebut.
Padahal, meskipun harga di tingkat petani turun, harga di supermarket dan di pasar masih menyentuh harga kisaran Rp 10.000, atau cenderung stabil.
Menurut para konsumen di akun tersebut, di supermarket serta pasar harga Rp 10.000 termasuk terbilang Murah.
Banyak netizen yang ramai ramai mengomentari postingan dari X @LikYono ini.
Seperti dari akun X @ip_normal berkomentar, “Mama papaku abis motoran, trus pulang2 beli ini di daerah perkebunan. Rp 10 ribu seplastik gede giniii, masih tetep murah banget ygy."
Akun lain X @indonesiamaju mengatakan, “Semua harga sedang naik-naiknya. Yang ini malah turun serendah-rendahnya. Semoga para petani selalu di berikan kekuatan di tengah keadaan yang tidak baik-baik saja."
Akun X @LikYono juga mengutas di postingan lainya dengan caption, “Harga #Kobis di petani Rp 500 per kg.yuk Coba hitung berapa KE(b)UNTUNGAN petani. Utk lahan 1 Ha dibutuhkan biaya sktr 60jt Rupiah, hasil panen kurleb 35 Ton."
Belum ada tanggapan sejauh ini dari pengurus petani seharusnya Pemerintah dan lembaga terkait perlu turun tangan untuk memberikan solusi, seperti subsidi atau program pelatihan, agar petani dapat lebih beradaptasi dengan perubahan pasar.
Beberapa petani mengungkapkan bahwa biaya untuk pupuk, benih, dan perawatan meningkat, tetapi harga jual kobis tetap stagnan.
Hal ini mengakibatkan kerugian besar bagi mereka.
Meskipun ada penurunan harga, seharusnya hal ini dipikirkan dari perspektif petani.
Kenaikan harga yang tajam sebelumnya membuat mereka terjebak dalam siklus kerugian. (Bintang Agung B P)
Editor : Meitika Candra Lantiva