RADAR JOGJA - Paus Fransiskus, yang dikenal sebagai pemimpin spiritual bagi lebih dari satu miliar umat Katolik di seluruh dunia, adalah sosok yang luar biasa dengan perjalanan hidup yang penuh inspirasi.
Sebagai Paus ke-266 dalam sejarah Gereja Katolik, Fransiskus membawa banyak perubahan dan pandangan baru dalam kepemimpinannya, terutama yang berkaitan dengan isu-isu sosial dan hubungan antaragama.
Fransiskus, lahir dengan nama asli Jorge Mario Bergoglio, pada 17 Desember 1936 di Buenos Aires, Argentina.
Ia menjadi Paus pertama yang berasal dari benua Amerika dan juga dari belahan bumi selatan.
Pilihannya sebagai Paus pada Konklaf Kepausan tanggal 13 Maret 2013 mencatatkan sejarah baru di Vatikan.
Dengan terpilihnya Fransiskus, ia menjadi imam Yesuit pertama yang menduduki Tahta Suci, serta Paus non-Eropa pertama dalam 1.272 tahun, sejak Paus Gregorius III dari Suriah.
Latar belakang keluarga Fransiskus
Sebagai anak pertama dari lima bersaudara, ia tumbuh dalam keluarga yang sederhana namun sarat dengan nilai-nilai keagamaan yang kuat.
Ayahnya, Mario Bergoglio, bekerja sebagai akuntan di perusahaan kereta api, sementara ibunya, Regina Sivori, adalah ibu rumah tangga yang penuh dedikasi dalam merawat anak-anaknya.
Sejak muda, Jorge Mario sudah menunjukkan minat yang besar dalam ilmu pengetahuan, terutama di bidang kimia.
Ia bahkan sempat meraih gelar master dalam bidang tersebut dari Universitas Buenos Aires sebelum memutuskan untuk mengikuti panggilan hidup imamat.
Langkah besar pertama dalam perjalanan spiritual Bergoglio terjadi ketika ia memilih untuk memasuki Seminari Keuskupan Villa Devoto dan memulai novisiatnya di Serikat Yesus pada 11 Maret 1958.
Setelah menyelesaikan studinya di Chili, ia meraih gelar filsafat dari Colegio de San José di San Miguel, Argentina.
Namun, bukan hanya pendidikan yang menjadi fokusnya, Bergoglio juga terjun ke dunia akademis dengan mengajar sastra dan psikologi di Santa Fé dan Buenos Aires dari 1964 hingga 1966.
Paus Fransiskus dikenal sebagai sosok yang penuh dengan dedikasi terhadap keadilan sosial dan kesejahteraan umat manusia.
Sebagai seorang Kardinal di Buenos Aires, ia sering kali terlibat langsung dengan masyarakat miskin, dan memperjuangkan hak-hak mereka.
Gaya hidupnya yang sederhana menjadi cerminan dari komitmennya terhadap ajaran Yesus tentang kemiskinan dan kerendahan hati.
Bahkan setelah terpilih menjadi Paus, Fransiskus tetap mempertahankan gaya hidupnya yang sederhana dengan menolak tinggal di Istana Apostolik Vatikan, dan lebih memilih tinggal di apartemen kecil di Casa Santa Marta.
Ia juga menolak menggunakan fasilitas mewah seperti limusin dan sopir pribadi, yang menjadi kebiasaan bagi para pendahulunya.
Kepemimpinan Paus Fransiskus tidak hanya berhenti di dalam Gereja Katolik saja. Ia adalah sosok yang selalu berusaha menjembatani perbedaan antara berbagai agama dan budaya.
Sebagai seorang pemimpin yang berpandangan konservatif dalam isu-isu moral seperti aborsi dan pernikahan sesama jenis, Fransiskus tetap menunjukkan sikap penuh kasih terhadap semua orang, termasuk kaum homoseksual.
"Siapakah saya untuk menghakimi?" adalah salah satu pernyataannya yang terkenal, menunjukkan sikap inklusifnya yang mengundang banyak pujian dari berbagai kalangan.
Paus Fransiskus juga menunjukkan kepeduliannya terhadap masalah lingkungan hidup, yang sangat relevan bagi Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang kaya.
Dalam pidatonya, ia mengingatkan pentingnya menjaga alam sebagai bentuk tanggung jawab manusia terhadap ciptaan Tuhan.
Pesan-pesan Paus ini sejalan dengan ensikliknya yang terkenal, Laudato Si', yang mengajak seluruh umat manusia untuk menjaga rumah bersama, bumi ini, dari kerusakan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.
Sebagai Paus, Fransiskus terus menginspirasi jutaan orang dengan sikapnya yang rendah hati, pandangan sosialnya yang luas, dan dedikasinya terhadap kebaikan bersama.
Kehadirannya di panggung dunia bukan hanya sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai simbol harapan dan perubahan di tengah dunia yang penuh tantangan.
Setiap langkah dan keputusannya selalu ditunggu-tunggu, karena ia selalu memiliki cara unik dalam menyampaikan ajaran-ajaran yang relevan dan kontekstual bagi zaman modern ini.
Dengan segala kebijaksanaan dan karismanya, Paus Fransiskus terus melangkah maju, membawa semangat reformasi dan belas kasih kepada semua orang tanpa memandang latar belakang.
Kehadirannya di Vatikan dan di dunia adalah pengingat bahwa di atas segalanya, cinta kasih dan pelayanan kepada sesama adalah nilai-nilai yang harus selalu dijunjung tinggi.
Editor : Winda Atika Ira Puspita