Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Virus Oropouche Buat Geger Brasil, Apakah Berpotensi Terjadi Penyebaran di Indonesia? Ini Penjelasannya

Izzatul Akmal Fikri • Kamis, 1 Agustus 2024 | 22:49 WIB

Wabah virus Oropouche telah menelan 2 korban jiwa.
Wabah virus Oropouche telah menelan 2 korban jiwa.


RADAR JOGJA - Brasil mengejutkan dunia dengan melaporkan kasus kematian pertama akibat virus Oropouche.

Virus langka ini ditularkan melalui gigitan nyamuk dan lalat terinfeksi. Virus ini telah merenggut dua nyawa pada hari Kamis minggu lalu.

Kedua korban itu, berusia di bawah 30 tahun dan tidak memiliki riwayat penyakit.

Kementerian Kesehatan Brasil melaporkan 7.236 kasus virus Oropouche pada tahun 2024, dengan sebagian besar laporan berasal dari negara bagian Amazonas dan Rondonia.

Mereka juga menyatakan, bahwa pasien menunjukkan tanda dan gejala yang mirip dengan kasus demam berdarah dengue (DBD) yang parah.

Pakar epidemiologi Dicky Budiman menyoroti, bahwa virus Oropouche bukanlah penyakit baru, melainkan sudah teridentifikasi sejak 1995.

Virus ini telah banyak ditemukan di negara-negara Amerika Latin dan kini tengah mewabah di Brasil serta Peru.

Dicky Budiman mengungkapkan bahwa gejala virus Oropouche mirip dengan kasus DBD.

Ia meminta pemerintah untuk memperketat surveilans, termasuk pemantauan di pintu kedatangan, terutama ketika seseorang mengeluhkan demam.

Gejala virus Oropouche meliputi demam, nyeri otot, sendi kaku, sakit kepala, muntah, mual, menggigil, dan sensitivitas terhadap cahaya.

Selain itu, Dicky menambahkan bahwa virus Oropouche juga memiliki potensi berbahaya bagi ibu hamil, seperti risiko keguguran dan bayi lahir dengan ukuran kepala yang kecil.

Menurut Dicky Budiman, virus Oropouche yang baru-baru ini menyebabkan kematian di Brasil memiliki potensi untuk menyebar ke Indonesia.

Baca Juga: Selain Gudeg, Ini Dia Sate Klathak Pak Pong: Makanan Legendaris Khas Jogja dengan Resep Turun-temurun Sejak 1960 yang Wajib Dicoba

Meskipun demikian, ia menilai risiko atau kemungkinan virus ini menjadi pandemi berikutnya setelah Covid-19 relatif kecil, karena penularannya tidak terjadi antarmanusia.

Serupa, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan, virus Oropouche dapat menular ke manusia terutama melalui gigitan nyamuk culicoides paraensis, yang ditemukan di daerah berhutan dan sekitar badan air, serta beberapa jenis nyamuk culex quinquefasciatus.

Diduga, siklus sirkulasi virus mencakup dua jenis siklus: epidemik dan sylvatik.

Dalam siklus sylvatik, primata, kukang, dan mungkin burung berfungsi sebagai inang vertebrata, meskipun vektor arthropoda yang pasti belum diidentifikasi.

Sementara dalam siklus epidemik, manusia menjadi inang utama, dengan penularan virus Oropouche terjadi terutama melalui gigitan nyamuk culicoides paraensis.

Saat ini, tidak ada bukti yang menunjukkan penularan virus Oropouche dari manusia ke manusia.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#virus langka #gejala #risiko keguguran #Pakar Epidemiologi #demam berdarah dengue (DBD) #virus Oropouche #Organisasi Kesehatan Dunia #Kasus kematian #Kementerian Kesehatan Brasil #merenggut nyawa #lalat terinfeksi #penyakit #Amazonas #amerika latin #riwayat penyakit #gigitan nyamuk #Indonesia #demam berdarah dengue