RADAR JOGJA - Bus rombongan SMK Lingga Kencana Kota Depok mengalami kecelakaan maut di Ciater, Subang, Jawa Barat, pada Sabtu 11 Mei lalu.
Kecelakaan ini merenggut nyawa 11 orang, termasuk 9 siswa, 1 guru, dan 1 pengendara motor.
Tragedi ini terjadi di tengah agenda perpisahan sekolah, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan juga pihak sekolah.
Kecelakaan maut ini menjadi sorotan khalayak ramai.
Banyak yang menyayangkan kejadian ini, terutama karena terjadi di tengah momen perpisahan yang seharusnya menjadikan momen menyenangkan dan tak terlupakan.
Masyarakat pun mendesak pihak terkait untuk mengkaji ulang agenda study tour atau perpisahan di sekolah.
Kegelisahan timbul dari masyarakat terkait kegiatan study tour dan perpisahan sekolah memang sudah ada sejak lama.
Acara ini dinilai memberatkan orang tua karena tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Apalagi, beberapa sekolah mewajibkan siswa untuk mengikuti acara tersebut dan tetap membayar iuran meskipun tidak hadir.
Kecelakaan maut bus SMK Lingga Kencana semakin memperkuat keresahan masyarakat.
Beragam komentar di media sosial menunjukkan bagaimana kekhawatiran dan penolakan terhadap study tour dan perpisahan yang terkadang diwajibkan oleh pihak sekolah.
Banyak yang mengusulkan agar acara perpisahan di sekolah cukup dilakukan di sekolah dan tidak mewajibkan siswa untuk membayar biaya yang mahal.
Tragedi di Ciater menjadi pengingat penting bagi semua pihak untuk mengevaluasi kembali kebijakan terkait kegiatan – kegiatan yang dibuat oleh pihak sekolah termasuk kegiatan study tour dan perpisahan di sekolah karena prioritas utama adalah keselamatan dan keamanan siswa.
Perlu dicari solusi yang tepat agar acara perpisahan dapat berjalan dengan aman dan tentunya tidak memberatkan orang tua.
Editor : Bahana.