RADAR JOGJA - Hari Pendidikan Nasional atau biasa disebut Hardiknas merupakan hari peringatan terhadap dunia pendidikan di Indonesia.
Perayaan ini menjadi momen untuk mengenang dan memperingati para tokoh pendidikan masa lalu di Indonesia.
Sejarah perayaan Hari Pendidikan Nasional dimulai pada masa penjajahan Belanda.
Di Indonesia, pendidikan pada saat itu diselenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda, tanpa memperhatikan pendidikan pribumi.
Pendidikan itu hanya untuk kalangan elit dan orang-orang Belanda. Pada masa pembentukannya, fokusnya hanya pada pendidikan teknis dan administrasi.
Ki Hajar Dewantara mulai memperjuangkan pendidikan Indonesia pada awal abad ke-20.
Ki Hajar Dewantara menjadi salah satu tokoh Indonesia yang memperjuangkan hak pendidikan bangsa Indonesia.
Tokoh terkemuka bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat ini merupakan seorang wartawan beberapa surat kabar dan berani menentang pendidikan pemerintah Belanda yang hanya memperbolehkan jenis pendidikan tertentu.
Bahkan kritiknya terhadap politik Belanda menyebabkan dia dideportasi ke Belanda bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo.
Kemudian pada tahun 1912, setelah kembali ke Indonesia, ia mendirikan Taman Siswa, atau sebuah lembaga pendidikan lembaga yang mengutamakan pendidikan bagi seluruh anak.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Indonesia telah bebas dari penjajahan Belanda, dan salah satu tugas utama pemerintah Indonesia adalah memperjuangkan hak rakyat atas pendidikan.
Baca Juga: Kolesterol Tinggi pada Usia Muda? Ini Penyebab dan Cara Efektif Menurunkannya!
Jadi, pada tanggal 2 Mei 1959, Presiden Soekarno menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Tanggal tersebut dipilih karena merupakan hari lahir Ki Hajar Dewantara yang memperjuangkan pendidikan di Indonesia.
Jadi Sejak saat itu, Hari Pendidikan Nasional menjadi hari penting bagi menghargai pendidikan di Indonesia.
Bapak pendidikan Indonesia ini pun memberikan 3 filososi pendidikan seperti berikut:
Ing Ngarso Sung Tuladha
Ing Madya Mangun Karsa
Tut Wuri Handayani.