RADAR JOGJA – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mendorong semua pihak untuk bersatu dan mengambil tindakan konkret dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan.
Menurutnya, perubahan iklim merupakan ancaman serius terhadap kelangsungan hidup manusia dan lingkungan.
Dalam sebuah acara peringatan Hari Meteorologi Dunia Ke-74 yang diadakan di Jakarta, Dwikorita menekankan penanganan perubahan iklim memerlukan tindakan nyata dan kolaborasi yang kuat dari semua pihak terkait.
Dia menyatakan, perubahan iklim tidak hanya merupakan isu seminar dan pertemuan.
Tetapi, harus diikuti dengan tindakan konkret yang berdampak nyata dalam upaya pencegahan dampak perubahan iklim.
“Jumlah penduduk terus meningkat sehingga di waktu bersamaan kebutuhan air juga ikut meningkat. Apabila ini (air) tidak dikelola dengan baik maka dampak buruknya akan sangat serius,” tutur Dwikorita karnawati dalam peringatan Hari Meteorologi Dunia Ke-74 di Jakarta, Sabtu (23/3/2024).
Dwikorita menggarisbawahi, perubahan iklim telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan.
Termasuk, meningkatnya suhu global, perubahan pola curah hujan, kenaikan permukaan air laut, serta dampaknya terhadap lingkungan dan manusia.
Contoh konkret dari dampak perubahan iklim adalah mencairnya gletser di Puncak Jaya, Papua, yang menyusut hingga 98 persen dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Dia juga menyampaikan, kenaikan suhu global telah mendekati batas yang disepakati dalam Perjanjian Paris COP21.
Di mana, seluruh negara sepakat untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata global di bawah 1,5 derajat Celcius pada tahun 2030.
Namun, kenaikan suhu saat ini sudah mencapai 1,45 derajat Celcius di atas suhu rata-rata masa praindustri.
Dalam upaya mengatasi perubahan iklim, Dwikorita menjelaskan ada dua aksi yang perlu dilakukan, yaitu mitigasi dan adaptasi.
Mitigasi berarti mengurangi penyebab pemanasan global dan perubahan iklim, sedangkan adaptasi berarti menyesuaikan diri terhadap dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.
Dalam konteks Indonesia, pentingnya menjaga ketahanan air juga ditekankan oleh Dwikorita.
Dia mengingatkan bahwa penurunan ketahanan air dapat berdampak serius terhadap sektor-sektor vital seperti pertanian dan energi, serta berpotensi memicu konflik yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan politik.
Melihat urgensi situasi ini, BMKG terus berupaya meningkatkan kesadaran publik akan dampak perubahan iklim dan mengembangkan sistem peringatan dini multibahaya yang efektif.
Dengan demikian, diharapkan ancaman bencana dapat diminimalisasi dan diantisipasi dengan lebih baik.
Semua upaya ini menunjukkan bahwa tanggung jawab dalam mengatasi perubahan iklim tidak hanya terletak pada pemerintah atau lembaga terkait.
Tetapi, juga membutuhkan partisipasi dan kerja sama dari seluruh lapisan masyarakat.
Hanya dengan kolaborasi yang kuat dan tindakan konkret, kita dapat melindungi planet ini untuk generasi yang akan datang.