Menurut Prof. Edvin Aldrian dari BRIN, suhu bumi diprediksi akan terus meningkat lebih cepat dari prediksi sebelumnya.
Dilansir dari Jawa Pos, El Nino yang terjadi pada tahun 2023 yang dapat memperparah situasi.
Fenomena ini menyebabkan curah hujan rendah di beberapa wilayah, seperti Lombok yang mengalami 222 hari tanpa hujan.
Dampak El Nino terasa pada produktivitas bahan pangan seperti beras dan minyak goreng.
Produksi beras periode Januari-April 2024 turun 17,57% dibandingkan periode sama tahun 2023.
Hal ini menyebabkan kenaikan harga beras yang melambung tinggi.
Diprediksi El Nino akan berakhir pada sekitar bulan April 2024, namun ada juga indikasi La Nina akan muncul pada semester kedua 2024.
La Nina dapat menyebabkan musim kemarau dengan sifat lebih basah. Hal ini baik untuk tanaman padi, namun tidak ideal bagi tanaman hortikultura.
Perlu adanya pemahaman dari masyarakat mengenai literasi perubahan iklim ini, terutama juga bagi para petani.
Pemodelan laut dapat membantu memprediksi El Nino dan La Nina untuk kesiapan pangan dan antisipasi bencana kekeringan.
Tahun 2023 merupakan tahun terpanas dengan dampak El Nino yang terasa.
Krisis pangan menjadi ancaman dan La Nina diprediksi akan muncul pada tahun 2024.
Pentingnya literasi iklim dan pemodelan laut menjadi kunci untuk menghadapi perubahan iklim.