RADAR JOGJA - Jika berkunjung ke Yogyakarta sempatkan menelusuri jalan Plengkung Gading di Jalan Patehan Kidul No 4, Patehan, Kecamatan (Kapanewon) Kraton, Kota Jogja, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Plengkung Nirbaya atau lebih dikenal dikalangan masyarakat umum dengan sebutan Plengkung Gading merupakan bangunan bergaya Belanda.
Lokasinya bangunan ini terletak di sebelah selatan Kota Jogja, yang jaraknya kurang lebih 300 meter dari Alun-Alun Kidul atau Alun-Alun Selatan.
Jalanan yang melewati bawah bangunan Plengkung Nirbaya ini selalu ramai kendaraan.
Tak hanya itu, kawasan Plengkung Gading selalu ramai orang berkunjung menikmati suasana di sekitaran Plengkung Gading ini.
Uniknya, terowongan ini memiliki atap yang bisa dinikmati untuk bersantai.
Plengkung Gading merupakan satu-satunya gapura yang mempunyai akses untuk menuju ke bagian atasnya.
Ada sebuah tangga di sisi utara dan bisa digunakan pengunjung untuk naik dan melihat Kota Jogja dari ketinggian.
Sejarah
Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gading ini merupakan gerbang menuju kerajaan.
Makna dari kata nirbaya sendiri pada bangunan ini adalah bebas dari bahaya duniawi.
Selain Plengkung Nirbaya, sebenarnya masih ada empat plengkung lain di wilayah keraton.
Antara lain, Plengkung Tarunasura, Plengkung Madyasura, Plengkung Jagasurya, dan Plengkung Jagabaya.
Bangunan Plengkung Nirbaya merupakan gerbang sakral karena merupakan peninggalan budaya milik Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat dan jadi salah satu ikon Kota Jogja.
Keraton pun menjadi tempat istimewa karena merupakan istana resmi Sri Sultan Hamengkubuwono X, gubernur sekaligus raja di Yogyakarta.
Pada zaman dahulu, plengkung ini menjadi gerbang utama untuk masuk dan keluar dari keraton.
Kelima plengkung yang disebutkan di atas mengelilingi kawasan keraton dari berbagai sisi.
Plengkung Tarunasura di sisi utara, Plengkung Madyasura di sisi timur, Plengkung Jagabaya di sisi barat daya, Plengkung Jagasura di sisi barat, dan Plengkung Nirbaya jadi gerbang di sisi selatan.
Bila dilihat baik baik, kalian bisa melihat pada bagian atas Plengkung Nirbaya ini terdapat ukiran burung yang sedang mengisap sari bunga yang dalam bahasa Jawa disebut lajering sekar sinesep peksi.
Lajering yang memiliki artinya satu, sekar berarti angka sembilan, sinesep artinya enam, dan peksi adalah angka satu.
Deretan angka ini menunjukkan kapan gapura ini awal dibangun, yaitu pada tahun 1961.
Jika kalian mengunjungi plengkung ini, kalian bisa melihat ada sebuah menara sirine.
Menara tersebut masih digunakan, tetapi uniknya hanya dipakai pada dua momen, yaitu setiap tanggal 17 Agustus untuk memperingati momen kemerdekaan dan waktu menjelang buka puasa pada bulan Ramadan.
Perlu diketahui bahwa Plengkung Nirbaya merupakan satu-satunya pintu keluar bagi raja yang telah meninggal dunia, sebelum akhirnya disemayamkan di Makam Raja-Raja Imogiri.
Sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I, Plengkung Nirbaya tidak dipernankan dilewati oleh sultan yang masih hidup.
Ya, yang bisa melewati gapura ini hanyalah sultan yang telah wafat.
Namun, kebalikannya untuk masyarakat umum.
Jika ada warga yang meninggal dunia, ia sama sekali tidak boleh melewati Plengkung Nirbaya.
Meski lokasi rumahnya dekat dengan pintu Plengkung Nirbaya, tetap harus mencari jalan yang lain untuk dilewati. (Rattiantic/Radar Jogja)
Baca Juga: Wow Murah...! Segini Biaya Sewa Rumah Rusun yang Dibangun Kemensos di Jakarta Timur dan Bekasi
Editor : Meitika Candra Lantiva