Hari Dharma Samudera merupakan hari yang memiliki sejarah penting nasional.
Yaitu, untuk memperingati peristiwa heroic, Pertempuran Laut Aru antara Tentara Indonesia dengan Belanda untuk membebaskan Irian Barat pada 15 Januari 1962 di Perairan Maluku.
Sejarah Hari Dharma Samudera
Hari Dharma Samudera merupakan hari bersejarah bagi negara Indonesia, yakni untuk mengenang sejarah Pertempuran Laut Aru pada 15 Januari 1962 lampau.
Saat itu pahlawan bangsa, tentara Indonesia bertempur menghadapi Belanda untuk pembebasan Irian Barat di Perairan Maluku.
Hari Dharma Samudera tersebut didasari dari sikap Belanda yang melanggar perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) untuk menolak menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia.
Menurut catatan Ahmad Mansyur dalam Api Sejarah 2 (2016,hlm.280), ada tiga poin utama yang dihasilkan oleh KMB, di antaranya:
- Penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada RIS (Republik Indonesia Serikat) akan dilakukan pada Desember 1949.
- APRIS statusnya disetujui sebagai bagian kesenjataan RIS.
- Daerah Irian Barat kekuasaannya diperbincangkan lagi satu tahun setelah pelasanaan KMB.
Atas hal tersebut, kemudian Indonesia meluncurkan serangan berupa operasi senyap / rahasia melawan Belanda.
Dalam operasi senyap / rahasia tersebut juga turut melibatkan 3 buah Kapal Republik Indonesia (KRI).
Yakni, KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang dan KRI Harimau, untuk mengintai armada Belanda di sekitar Irian Barat.
Misi operasi rahasia tersebut bernama Satuan Tugas Khusus 9 Januari (STC-9), yang dikomandoi langsung oleh Kolonel Laut Sudomo.
Baca Juga: KIP Kuliah 2024 Segera Dibuka, Apakah Boleh Pakai Nama Orangtua Untuk Daftar DTKS? Simak Penjelasannya!!!
Pada tanggal 15 Januari 1962, tiga KRI dalam misinya semakin dekat ke Irian, namun dapat diketahui Belanda, pertempuran pun tak terelakan.
Pertempuran yang terjadi mengakibatkan KRI Macan Tutul menjadi korban, yang didalamya terdapat komodor Yos Sudarso itu sendiri. Sementara dua KRI lainnya selamat.
Setelah itu pertempuran antara Indonesia dan Belanda tidak berlanjut lagi, mengingat masyarakat Irian Barat sudah memutuskan untuk bergabung dengan Indonesia. (Firda Zahrotun Nisa/Radar Jogja)