Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perjalanan Panjang Tahu: Jejak Sejarah dari Nenek Moyang Hingga Kelezatan Modern

Trimina Klara • Jumat, 12 Januari 2024 | 03:30 WIB

Sumber foto Halodoc
Sumber foto Halodoc
RADAR Jogja - Dengan aromanya yang harum dan citarasanya yang lezat dan menarik, tahu sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masakan Indonesia.

Namun, dibalik keasyikannya, tahu menyembunyikan jejak sejarah yang kaya dan menarik.

Sebagai salah satu produk olahan kedelai yang telah menjadi warisan kuliner, mari kita menengok kembali perjalanan panjang tahu dari zaman dahulu hingga kehadirannya yang tak terelakkan dalam masakan sehari-hari.

Sekitar 200 tahun yang lalu, pada masa Dinasti Han, seorang pangeran di kota Huainan bernama Liu An menanam kedelai di rumahnya.

Setelah kedelai ditumbuk, ia merebus bubuk kedelai dan menambahkan sedikit garam.

Tanpa sepengetahuannya bubur kedelai menjadi kental karena mengandung garam.

Saat dicicipi, Anda akan menemukan bahwa rasa masakannya enak, sehingga disebut tao-hu. “Tao” berarti kedelai dan “Hu” dikocok hingga menjadi bubur.

Dianggap sebagai camilan sehat dan tahu akhirnya menyebar dengan cepat ke seluruh Asia Timur Raya sebelum masuk ke Indonesia.

Pada tahun , abad ke-10, masyarakat Tinghoa memperkenalkan tahu ke masyarakat Indonesia, sejenis tahu yang saat itu hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas.

Pada tahun , ketika sistem pertanian paksa diterapkan di Indonesia, masyarakat adat kesulitan mencari makan karena adanya paksaan dari penjajah.

Oleh karena itu, tahu menjadi penyelamat masyarakat Jawa karena dianggap sebagai makanan bergizi.

Menghargai jejak sejarahnya, kita bisa lebih memahami nilai budaya yang tersembunyi dalam sejumput tahu lezat di piring kita setiap hari

Editor : Bahana.
#tahu #nenek moyang #sejarah