RADAR JOGJA – Apakah kalian familiar dengan teko ataupun cangkir dengan corak abstrak loreng berwarna hijau putih?
Biasanya teko ataupun cangkir tersebut banyak ditemukan di rumah kakek nenek kita.
Teko in juga biasa digunakan untuk ngeteh atau ngopi, bahkan sampai sekarang.
Teko diisi dengan teh ataupun kopi untuk dinikmati bersama gorengan ataupun ubi.
Diketahui, teko tersebut bernama teko blirik.
Namun ada juga yang menyebutnya teko loreng karena memiliki motif yang sama dengan seragam TNI Indonesia.
Teko blirik ini sudah ada sekitar tahun 1830, tepatnya saat berakhirnya Perang Diponegoro.
Saat Perang Diponegoro berakhir dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro, Belanda kemudian mulai menyebarluaskan identitas kekuasaannya di tanah Jawa.
Salah satu identitas tersebut yaitu teko blirik tersebut.
Teko Blirik dibawa oleh salah satu pedagang asal Belanda tetapi lahir di Belgia, yang bernama Jan Mooijen.
Saat sampai di tanah Jawa pada tahun 1845, Jan Mooijen kemudian membuka agen penjualan teko blirik.
Penjualan tersebut kemudian menyebar hingga ke seluruh wilayah tanah Jawa.
Pada saat itu, orang-orang Belanda banyak yang membeli teko blirik untuk diberikan dan digunakan oleh kalangan buruh petani.
Akibatnya, teko blirik menjadi sebuah identitas yang membedakan antara kaum kalangan bawah dengan kaum kalangan atas.
Kaum kalangan bawah yaitu para buruh petani. Sedangkan kaum kalangan atas yaitu para bangsawan Belanda.
Selain sebagai identitas pembeda antara kaum kalangan bawah dengan kaum kalangan atas, teko blirik juga menjadi identitas dan ikon Hindia Belanda di Pasar Gambir.
Diketahui, Pasar Gambir menjadi lokasi pertama di adakannya pasar malam di daerah Batavia.
Sejak saat itu, Pasar Gambir kemudian berlanjut menjadi pasar malam yang menyediakan berbagai permainan dan kios-kios yang menjual makanan ataupun barang, yang salah satunya adalah teko blirik tersebut.
Seiring berjalannya waktu, para petani kemudian mengetahui bahwa teko blirik menjadi identitas untuk membedakan mereka sebagai kaum kalangan bawah dengan bangsawan Belanda sebagai kaum kalangan atas.
Hal tersebut mereka simpulkan sebagai salah satu bentuk penindasan pemerintah Belanda kepada mereka para petani. Karena hal tersebut, akhirnya teko blirik dijadikan sebagai simbol perjuangan para petani.
Selain teko blirik, topi caping juga menjadi salah satu simbol perjuangan petani. Sejak saat itu, teko blirik menjadi semakin meluas. Siapapun yang juga menggunakan teko blirik, itu berarti turut ikut serta dalam mendukung para petani.
Penggunaan teko blirik semakin menjadi primadona hingga tahun 1960-an.
Teko blirik memiliki kualitas yang bagus dari bahannya yang menggunakan lapisan enamel sehingga terkenal lebih awet, tahan panas, dan tahan karat.
Untuk saat ini, mungkin sudah jarang yang menggunakan teko blirik kecuali kakek nenek kita. Penggunaan teko blirik lebih banyak ditemukan sebagai pajangan yang memberikan kesan estetik.
(Anistigfar/Radar Jogja)