RADAR JOGJA - Masih ramai diperbincangkan oleh warganet tentang rasisme chindo (China Indonesia).
Pembicaraan ini terus muncul karena berawal dari kontes memasak MasterChef yang dimenangkan oleh seorang perempuan bernama Belinda keturuann etnis China Indonesia atau Chindo.
Ia berhasil mengalahkan Kiki yang merupakan laki-laki keturunan pribumi.
Para warganet yang sebagian besar merupakan pribumi merasa tidak terima dengan hasil tersebut.
Mereka beranggapan bahwa para juri dan penyelenggara melakukan kecurangan.
Anggapan tersebut tidak muncul begitu saja, namun mereka melihat track record pada season sebelumnya yang pemenangnya didominasi oleh orang-orang keturunan chindo.
Pertanyaan yang muncul selanjutnya yaitu apa makna chindo dan mengapa para chindo dianggap sangat sentimental oleh masyarakat asli Indonesia.
Chindo merupakan sebuah singkatan dari China Indonesia.
Chindo merupakan orang-orang yang memiliki garis keturunan Tiongkok-Indonesia.
Etnis ini sudah menetap di Indonesia sudah sejak berabad-abad yang lalu. Namun keberadaanya sejak dulu selalu memunculkan kontroversi.
Mengulas balik sejarah muncul etnis Tiongkok di Indonesia. Mereka adalah orang-orang Tiongkok yang datang ke Indonesia untuk melakukan perdagangan.
Seiring berjalannya waktu, populasi mereka semakin banyak. Perpecahan antara pribumi dan keturunan Tiongkok berawal dari klasifikasi rasial yang diberlakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda.
Orang-orang Tiongkok digolongkan dalam kelompok orang asing. Dan kelompok orang tersebut mendapatkan banyak keistimewaan, terutama dalam bidang ekonomi.
Permusuhan itu terus berlanjut hingga terjadinya sebuah aksi boikot terhadap produk-produk yang berasal dari orang-orang Tiongkok.
Aksi tersebut terjadi pada tahun 1920. Perpecahan besar pun juga terjadi antara masyarakat pribumi dan orang-orang keturunan Tiongkok pada tahun 1940.
Konflik terus mendarah daging dan diperkuat pada masa ordeba, dimana orang-orang peranakan Tiongkok di diskriminasi oleh pemerintah.
Mereka hanya boleh menguasai bidang ekonomi dan dilarang menyentuh hal-hal di luar itu termasuk politik.
Peristiwa yang sangat besar pun terjadi kembali pada tahun 1998. Yaitu penjarahan yang dilakukan oleh pribumi kepada orang-orang Tiongkok.
Latar belakang terjadi penjarahan tersebut yaitu krisis moneter yang sedang berlangsung.
Hingga pada masa sekarang pun stereotip tentang masyarakat keturunan Tiongkok masih sangat mengakar.
Kecemburuan sosial terus muncul akibat dominasi yang masih terjadi di dalam seluruh bidang kehidupan terutama dalam ekonomi.
Menurut Yenny Wahid dalam theconversation.com mengatakan bahwa hendaknya masyarakat menyudahi perpecahan tersebut dan fokus memajukan Indonesia bersama-sama. (Annida Muthi’ah)
Editor : Bahana.