RADAR JOGJA – Jamu menjadi salah satu kekayaan Indonesia. Jamu disebut ramuan herbal dari rempah-rempah yang banyak tumbuh di iklim tropis.
Ada berbagai macam jamu-jamuan, dan yang paling populer antara lain; jamu kunyit asam, jamu beras kencur, jamu pahitan, jamu temulawak, dan lain-lain.
Mengkonsumsi jamu juga memberikan khasiat bagi kesehatan tubuh, bahkan meminum jamu diyakini bisa menyembuhkan sejumlah penyakit.
Demikian tenun, Indonesia memiliki kekayaan keterampilan membuat tenun dan menghasilkan mahakarya yang beragam.
Nah, taukah kamu, tahun 2023 ini jamu dan tenun bakal ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) atau representative list of intangible cultural heritage of humanity oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Hal ini dibeberkan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid, Kamis (16/11/2023). Kendati begitu, belum dipastikan tanggal penetapan tersebut.
Jamu merupakan salah satu warisan budaya yang kelestariannya patut dijaga. Jamu bagian budaya yang sudah ribuan tahun dan turun temurun digunakan hingga generasi sekarang. Jamu punya sejarah panjang sebelum dunia kesehatan berkembang seperti saat ini.
"Yang ditetapkan sebagai warisan itu adalah kemampuan masyarakat untuk menciptakan, jadi bukan produknya atau bendanya. Tetapi keahlian orang meracik dan meramu," ungkap Hilmar Farid dikutip dari jawapos.com, Jumat (17/11/2023).
Dikatakan Hilmar, selain jamu nantinya tenun juga bakal dijadikan WBTB. Tenun Indonesia akan menyandang title yang sama sebagaimana batik yang lebih dulu mendapatkan predikat WBTB sejak 2009.
Upaya pendaftaran tenun sudah dilakukan. Kendati begitu pihaknya belum merinci detail jenis tenun apakah yang bakkal diajukan.
"Apakah tenun saja atau tenun nusantara, atau tenun dari NTT kami sedang lihat itu untuk menentukan landasan, yang mau didaftarkan dan laporan-laporan masih dalam proses riset dan menyusun," tambahnya. (Martin Hill Candratya/Radar Jogja)
Baca Juga: Tuman! 260 APS Parpol dan Caleg di Sleman Terindikasi Kampanye