RADAR JOGJA – Berapa hari belakangan viral semua video yang memperlihatkan salah satu siswa sd membawa bekal ke sekolah dengan lauk ulat sagu.
Video yang berasal dari daerah Bojonegoro, Jawa Timur dan direkam oleh salah satu guru yang mengajar di sekolah tersebut.
Namun yang menjadi perhatian netizen respon guru nya seolah-olah meremehkan bekal siswa tersebut dengan berkata “jan,jan 2023 kok isih lawuh uler” jika di artikan ke bahasa Indonesia “2023 kok masih lauk ulat.”
Selain itu siswa sd tersebut juga memberikan keterangan ia baik-baik saja semenjak memakan ulat tersebut dari semalam pada saat guru yang merekam aksi tersebut bertanya. Jadi pertanyaannya apakah ulat sagu boleh dikonsumsi?
Ulat sagu adalah serangga yang hidup didalam pohon sagu dan telah menjadi makanan tradisional dibeberapa wilayah, khususnya di Papua dan Maluku.
Ulat sagu yang sudah dikonsumsi selama berabad-abad ini menjadi sumber protein yang bermanfaat.
Selain itu, ulat sagu menjadi makanan lokal yang mendukung keberlanjutan pangan dibeberapa cara seperti:
- Ketersediaan Lokal: Ulat sagu yang ditemukan secara alami di lingkungan setempat masyarakat tinggal. Sehingga tidak memerlukan sumber daya eksternal yang begitu besar untuk diperoleh maupun diproduksi.
- Mengurangi Tekanan pada Sumber Daya Laut: Di sebagian besar wilayah pesisir, kegiatan memenacing untuk mendapatkan ikan menjadi sumber utama dalam memenuhi protein. Namun dengan mengkonsumsi ulat sagu, masyarakat dapat mengurangi tekanan pada sumber daya laut yang kian hari semakin berkurang.
- Pertumbuhan yang Cepat: Siklus hidup ulat sagu yang terbilang relative singkat, yang mana dapat diambil dengan frekuensi yang tinggi daripada sumber protein hewani lainnya.
Bukan hanya menjadi sumber protein dan gizi yang terbilang tinggi. Mengkonsumsi ulat sagu juga memiliki nilai budaya dan tradisi yang kuat.
Jadi dengan memakan ulat sagu merupakan sebuah praktik yang memberikan manfaat gizi, budaya, ekologis dan sosial.
Ini juga menjadi contoh bagaimana masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka. (Trimina Klara/ RADAR JOGJA)
Editor : Bahana.