Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Waspada Saat Beraktivitas di Luar Ruangan Pada Siang Hari, Ini Organ Tubuh Yang Bisa Terdampak

Bahana. • Kamis, 12 Oktober 2023 | 03:10 WIB
PANAS: Sejumlah anak bermain layang-layang di Kabupaten Sleman beberapa waktu lalu. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
PANAS: Sejumlah anak bermain layang-layang di Kabupaten Sleman beberapa waktu lalu. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

RADAR JOGJA - Sebagian besar wilayah di Indonesia mengalami cuaca panas dan terik akibat musim kemarau sejak bulan Juli 2023.

Berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu maksimum di sejumlah wilayah Indonesia pada September 2023 mencapai 38 derajat Celsius. 

Adapun, BMKG memperkirakan cuaca panas dan terik masih dapat berlangsung hingga akhir Oktober 2023.

Berkaitan dengan imbauan BMKG, dokter sekaligus epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengungkapkan bahwa cuaca panas dan paparan sinar matahari yang ekstrem memang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan manusia.

Prof. Dicky mengatakan, hal tersebut bisa terjadi karena sejumlah organ tubuh manusia memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap panas.

"Beberapa bagian atau organ tubuh manusia sangat rawan atau sensitif terhadap panas karena mereka berperan dalam mengatur suhu tubuh. Jika terpapar panas berlebihan, ini akan menyebabkan gangguan pengaturan suhu tubuh," ujar Prof. Dicky, Selasa (10/10/2023).

Ini dia ada lima organ tubuh yang sensitif ketika terkena cuaca panas dan paparan sinar matahari. 

  1. Kulit

Kulit adalah organ tubuh terbesar manusia yang berfungsi sebagai pelindung dari kerusakan akibat benturan, kontak kimia, serangan bakteri, jamur, kuman penyakit, dan sinar matahari.

“ketika kulit terekspos suhu yang tinggi maka kulit akan mengalami kemerahan, sunburn (terbakar sinar matahari), atau kondisi yang lebih parah, yaitu heat stroke,” ungkap Prof. Dicky.

Dalam kondisi terburuk, paparan sinar matahari dapat menimbulkan risiko kanker kulit, terutama jika tidak diberi perlindungan ekstra selama cuaca panas ekstrem.

Prof. Dicky mengimbau setiap individu untuk menggunakan pakaian panjang dan longgar, menggunakan payung dan topi ketika beraktivitas di luar ruangan, hingga menggunakan tabir surya atau sunscreen.

"Kalau berbicara kulit, ya, mulai dari kepala sampai ke ujung kaki. Itu, kan, dilapisi kulit. Selain itu, pastikan cukup minum air agar tidak mengalami dehidrasi," ungkap Prof. Dicky.

 

  1. Sistem Kardiovaskular

Sistem kardiovaskular yang terdiri atas jantung dan pembuluh darah berfungsi untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh.

Ternyata, sistem ini juga rawan mengalami gangguan jika tubuh terlalu sering terpapar sinar matahari. 

"Ketika suhu panas terjadi maka darah dan pembuluh darah kita mengalami vasodilatasi atau jadi mengembang atau melebar," ungkap Prof. Dicky.

"Jika hal itu terjadi maka jantung bekerjanya jadi lebih keras lagi. Bebannya semakin besar untuk mensirkulasikan darah dan ini bisa menyebabkan peningkatan denyut jantung serta tekanan darah," lanjutnya.

Dalam hal ini, Prof. Dicky meminta para penderita penyakit kardiovaskular dan kelompok lanjut usia (lansia) untuk meningkatkan kewaspadaan dan perlindungan selama cuaca panas.

Sebab, kedua kelompok tersebut paling berisiko mengalami gangguan sistem kardiovaskular akibat panas. 

  1. Ginjal

Organ selanjutnya yang rawan saat cuaca panas yaitu Ginjal. Menurut Prof. Dicky, kondisi dehidrasi yang dialami manusia secara tidak langsung mampu mempengaruhi kesehatan ginjal.

"Ginjal berfungsi untuk meregulasi dan mengatur keseimbangan cairan serta elektrolit di dalam tubuh. Panas ekstrem yang bisa menyebabkan dehidrasi bisa meningkatkan risiko gangguan ginjal," ungkap Prof. Dicky.

Prof. Dicky mengimbau setiap individu untuk selalu memastikan tubuh terhidrasi dengan mengonsumsi air mineral meskipun sedang tidak dalam keadaan haus.

  1. Sistem Pernapasan

Kasus gangguan sistem pernapasan semakin meningkat, salah satunya akibat polusi udara. Prof. Dicky mengatakan bahwa gangguan kesehatan tersebut juga dipicu oleh musim kemarau serta udara lembap.

"Pada suhu panas, udaranya juga lembap, ini merangsang timbulnya keluhan-keluhan saluran napas," kata Prof. Dicky.

Baca Juga: Respon Perang Palestina - Israel, Kim Jong Un: Konsekuensi dari Tindakan Israel Terhadap Palestina  

Prof. Dicky mengungkapkan bahwa anak-anak adalah kelompok yang paling rentan mengalami gangguan sistem pernapasan akibat cuaca panas.

"Suhu cuaca panas itu mendukung timbulnya perburukan infeksi atau penyakit saluran napas pada anak, apalagi ditambah dengan buruknya kualitas udara yang seringkali dikaitkan dengan gelombang panas," ungkapnya

  1. Sistem Saraf Pusat

Organ terakhir yang berisiko mengalami gangguan akibat cuaca panas ekstrem adalah sistem saraf pusat. Sistem saraf pusat adalah organ yang meliputi otak dan sumsum tulang belakang.

Jika terlalu sering terpapar sinar matahari dan cuaca panas ekstrem, sistem saraf pusat akan mengalami gangguan yang ditandai sejumlah gejala, seperti kebingungan, pusing, hingga hilang kesadaran.

"Dampak yang bisa muncul akibat panas antara lain dalam bentuk heat stroke, misalnya muncul gejala kebingungan, puyeng, pusing berputar, dan yang lebih berat kehilangan kesadaran," ungkap Prof. Dicky.

Prof. Dicky mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama saat waktu puncak panas, yakni antara pukul 10.00 hingga 16.00. (Adek Ridho Febriawan/ RADAR JOGJA)

Editor : Bahana.
#kemarau #radar jogja #Kesehatan #organ #dokter #panas