RADAR JOGJA – Berlibur dan menghabiskan waktu bersama orang yang kita sayangi tentu akan semakin lebih bermakna.
Memilih destinasi wisata yang membuat orang lain merasa senang dan nyaman tentu merupakan pilihan terbaik.
Apalagi bagi para petualang yang menyukai destinasi wisata berbau seni dan peninggalan bersejarah.
Berbicara tentang peninggalan bersejarah, budaya dan seni rasanya kurang lengkap jika kita tidak berbicara tentang salah satu destinasi wisata Museum Sonobudoyo.
Museum ini berada di pusat Kota Jogja. Tepatnya di sebelah barat laut Alun-alun Utara, Jalan Pangurakan Nomor 6, Ngupasan, Gondomanan, Kota Jogja, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).
Sejarah Singkat Museum Sonobudoyo
Museum pada dasarnya merupakan sebuah tempat yang melindungi, menyimpan dan memperkenalkan kepada khalayak umum tentang peninggalan bersejarah maupun budaya.
Nah, dilansir dari laman resmi Museum Sonobudoyo, Museum ini dulunya sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang Jawa, Madura, Bali dan Lombok.
Pada 1919 yayasan ini berdiri di Surakarta dengan nama Java Institut.
Namun seiring berjalannya waktu Java Institut mendirikan museum di Jogjakarta.
Pada 1929, pengumpulan data kebudayaan di empat daerah tersebut pun dimulai. Dengan panitia perencanaan yang diwakilkan oleh beberapa anggota. Yakni, Ir Th Karsten PHW, Sitsen dan Kooperberg.
Bangunan Museum dibuat Menggunakan Tanah Bekas "Shouten"
Bahan pembuatan Museum Sonobudoyo disebutkan berasal dari tanah bekas "Shouten", yakni, tanah hadiah dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII.
Pembangunan museum ditandai dengan sengkala berbunyi "Buta ngrasa estining lata", yaitu tahun 1865 Jawa atau tahun 1934 Masehi.
Diresmikan
Pada 1866 tahun Jawa dilakukan peresmian oleh Sri Sultan Hamengkubuwana VII. Ditandai dengan sengkala "Kayu Winayang ing Brahmana Budha" pada 1935 tahun Masehi.
Masa Pendudukan Jepang
Pada masa ini, Museum Sonobudoyo pernah dikelola oleh Bupati Paniradyapati Wiyata praja (Kantor Sosial bagian pengajaran).
Di zaman merdeka kemudian dikelola Bupati
Utorodyopati Budaya Prawito atau jajaran Pemrintah Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).
Selanjutnya pada 1974, museum ini diserahkan ke pihak pemerintah pusat departemen pendidikan dan kebudayaan yang memiliki tanggung jawab langsung kepada pihak Direktorat Jenderal.
Adapun beberapa jenis koleksi kebudayaan yang terdapat dalam Museum Sonobudoyo ini di antaranya sebagai berikut:
- Koleksi Teknologi
- koleksi Seni rupa
- koleksi Keramologika
- koleksi Filologika
- koleksi Historika
- koleksi Numismatika
- koleksi Arkeologi
- koleksi Etnografika
- Koleksi Biologi
- koleksi Geologi
Dari 10 kriteria koleksi tersebut, setidaknya ada 63.345 benda koleksi. Dengan koleksi paling banyak Numismatika berjumlah 29.744 dan paling sedikit ada koleksi biologi sebanyak 39 benda.
Nah koleksi-koleksi tersebut tentunya bisa menjadi referensi pengetahuan dan memutar kembali memori sejarah masa lalu.
Namun perlu diketahui, ketika berkunjung ke museum ada beberapa hal yang tak boleh dilakukan pengunjung.
Yakni, memegang koleksi museum. Karena itu menjadi larangan dan bagian tata krama yang berlaku di museum.
Hal itu dilakukan demi keselamatan bersama, melindungi peninggalan-peninggalan sejarah yang kelak dapat menjadi pengetahuan anak cucu. Menjadi warisan budaya generasi yang akan datang. (Angela Maria Bria Resi)