RADAR JOGJA - Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani mengalami kenaikan. Harga per kilogram (kg)nya, tembus di angka Rp 6.000. bahkan di sejumlah daerah mengalami peningkatan yang baik di atas harga pembelian pemerintah (HPP).
Di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah misalnya, GKP mencapai Rp 6.800 per kg. Biasanya harga gabah sesuai HPP berada di kisaran Rp 5.000 per kg.
"Semua petani mengalami kegembiraan. Ya baru kali ini petani merasakan harga gabah tinggi," ungkap Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Kabupaten Sukoharjo Bagas Windaryatno dikutip dari Jawa Pos Radar Solo, Selasa (5/9/2023).
Sukoharjo merupakan salah satu lumbung padinya Jawa Tengah, memiliki produktivitas tinggi. Meski terdampak pandemi Covid-19 tahun lalu, namun masih surplus beras mencapai 138.000 ton. Kemudian realisasi produksi padi di Kota Makmur tahun lalu mencapai 308.688 ton gabah kering giling (GKG).
"Rata-rata produksinya mencapai 64,03 kuintal per hektare (ha) GKG," sebutnya. Lebih lanjut disebutkan, pada 2023 hingga Juli, produktivitas panen padi mencapai 236.206 ton GKG. Dengan jumlah luasan lahan panen mencapai 33.105 ha.
Kenaikan harga gabah juga dirasakan petani di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Harga gabah basah yang biasanya Rp 5.100 per kg kini naik menjadi Rp 6.500 per kg. Hal ini mengerek harga beras jenis medium naik Rp 1.000 sampai Rp 2.000 menjadi sekarang berkisar Rp 12 ribu per kg.
kenaikan harga gabah di tingkat petani ini menjadi kabar bahagia, namun bukan tanpa alasan. Sebab, 3,5 bulan menanam padi ini menjadi tantangan. Tantangan yang tengah dihadapi dan akan dihadapi ke depan yakni, terkait cuaca kemarau panjang. Menyebabkan sejumlah wilayah turut terdampak kekeringan. Sehingga menyebabkan harga gabah tinggi namun produksi menurun.
"Kami paling banter menampung gabah basah hasil panen sekitar dua sampai tiga ton, padahal sebelumnya kemarau bisa mencapai 15 ton per pekan," jelas Ketua Kelompok Tani Sukabungah Desa Tambakbaya, kabupaten Lebak, Ruhiana di Lebak dilansir dari Antara. (mel)
Baca Juga: Palsukan Stempel Kepengurusan Tanah Milik Warga, Massa Tuntut Jogoboyo Sidorejo Dipecat
Editor : Meitika Candra Lantiva