Menelusuri Masjid-Masjid Mataram dari Kotagede hingga Perjanjian Klaten 1830 (112)
Stabilitas politik era Sultan Hamengku Buwono (HB) I terjaga selama 1755-1792. Gusti Raden Mas (GRM) Sundara ditunjuk sebagai pengganti. Putra mahkota naik takhta bergelar HB II.
Sundara lahir di Pegunungan Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah, semasa ayahnya Pangeran Mangkubumi memimpin pemberontakan terhadap Mataram. Ibundanya bernama Ratu Mangkubumi karena menjadi istri utama ayahnya semasa belum naik takhta sebagai raja. Masih berstatus sebagai pangeran.
Ratu Mangkubumi ini kelak juga dikenal dengan sebutan Ratu Kadipaten. Ibunda dari Adipati Anom, putra mahkota HB I. Setelah suaminya meninggal, Ratu Kadipaten ini mesanggrah di Tegalreja. Selama tinggal di Ndalem Tegalreja, Ratu Mangkubumi sepuh ini banyak ditemani cucu buyutnya Raden Mas (RM) Antawirya. Buyutnya itu setelah dewasa bergelar Pangeran Diponegoro. Ratu Mangkubumi ini juga populer dengan sapaan Ratu Ageng Tegalreja.
Sebagai raja kedua kasultanan, Sundara dikenal berwatak keras. Memegang prinsip. Ini berkat didikan sang ibu. Sundara tumbuh sebagai pemuda berkarakter kuat. Akibat sikap itu, HB II kerap terlibat konflik politik. Terutama dengan Pemerintah Belanda.
Dalam kehidupannya, Ratu Mangkubumi ini memegang kuat filosofi Jawa dalam memilih pasangan hidup, Mempertimbangkan bobot, bibit, dan bebet. Yakni bobot berkaitan dengan kepribadian dan pendidikan, bibit berhubungan garis keturunan dan bebet menyangkut status sosial ekonomi.
Semasa mendukung suaminya berjuang, Ratu Mangkubumi pernah menjabat sebagai komandan korps prajurit estri. Pasukan ini terdiri dari para perempuan. Karakter laskar Mangkubumen itu juga tercermin dalam Joged Mataram yang diciptakan suaminya. Ada empat unsur dalam joged yang kemudian diadopsi dalam nilai-nilai kepemimpinan. Keempat unsur itu meliputi nyawiji, greged, sengguh, dan ora mingkuh.
Ada peran Ratu Mangkubumi dalam proses menciptakan joged tersebut. Karakter ora mingkuh alias tidak gampang menyerah, tercermin pada permaisuri yang dikenal punya karakter tangguh itu. Perempuan asal Majangjati, Sragen, Surakarta itu setia mendampingi suaminya berjuang dari 1746-1755.
Ratu Mangkubumi juga membantu suaminya saat awal-awal membentuk Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dari mulai menata kelembagaan, penempatan pejabat, hingga menyiapkan Sundara sebagai calon pewaris takhta kasultanan.
Ratu Mangkubumi bukan saja menjadi first lady yang anggun dan berwibawa. Pribadi yang visioner. Dia menjabat sebagai panglima Pasukan Kawal Kehormatan Istimewa Kasultanan. Satu-satunya barisan perempuan pasukan militer Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Ratu Ageng ini dalam kesehariannya berlaku agamis. Memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Salah satu ulama perempuan di Jawa bagian Selatan yang disegani. Kegemarannya membaca kitab-kitab religi. Dia termasuk penganut tarekat Syattariyah.
Tujuh tahun setelah HB I wafat, VOC dibubarkan pada 31 Desember 1799. Saat HB II bertakhta, penguasa Belanda di bawah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Hubungan HB II dengan Daendels kurang harmonis. Sundara kerap menentang secara terbuka kebijakan Batavia. Ini membuat geram Daendels.
Invansi militer dilakukan Daendels dengan menyerang keraton. HB II dipaksa lengser pada 1811. Daendels menunjuk GRM Surojo, putra mahkota HB II menggantikan ayahandanya, sebagai HB III.
Selama HB III bertakhta antara 1811-1812, HB II tetap berada di dalam istana. Statusnya mirip tahanan politik. Jalannnya pemerintahan dilakukan HB III bersama pepatih dalem Danuredja II. (laz)
Editor : Satria Pradika