Pementasan ketoprak yang berlangsung di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret ini memang hadir dengan konsep berbeda. Para pemeran utamanya adalah pejabat publik hingga tokoh masyarakat. Sementara para seniman ketoprak hadir sebagai pendamping dan cameo.
“Ketoprak ini tidak sekadar ketoprak tapi ketoprak yang dipentingkan bukan bermainnya bagus, bukan karena bahasanya bagus, bukan karena penampilan bagus, tapi bagaimana ketoprak ini para pemainnya bisa membangun kedekatan dengan publik,” jelas HB X saat membuka Ketoprak Pejabat di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, Sabtu malam (3/12).
Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat ini menilai pesan yang disampaikan jauh lebih penting. Terutama tentang dinamika menjelang tahun politik 2024. Agar masyarakat dan para tokoh politik mampu menjaga ketertiban dan kondusifitas lingkungan
Itulah mengapa para pemainnya adalah para pejabat publik di Jogjakarta. Harapannya agar pesan dalam Crah Agawe Bubrah, Rukun Agawe Santosa bisa tersampaikan. Disatu sisi juga membangun kedekatan dengan masyarakat.
“Mungkin bahasanya kurang bagus, bahasanya campur - campur tidak ada masalah, yang penting antar pejabat publik dengan penonton bisa satu visi. Bagaimana membangun visi yang selama ini kita coba pertahankan bersama,” ujarnya.
Ketoprak Pejabat mengisahkan Ki Jaya Sudarga yang diperankan Romo Banar, seorang saudagar terkaya di Jogjakarta. Berkat hasutan Botoh Dirga yang diperankan Kapolda DIY Suwondo Nainggolan, Tarjo diperankan Kepala Dispar DIY Singgih Raharjo dan Botoh Amir diperankan Bupati Gunungkidul Sunaryanta tertarik menjadi seorang lurah
Untuk mewujudkan ambisinya ini, digunakan politik kotor berupa money politics. Aksi ini mendapatkan tentangan dari sang istri Nyi Jaya Sudarga yang diperankan Rektor UGM Ova Emilia.
Dalijo yang berperan sebagai Mingun bertindak sebagai tim sukses Ki Jaya Sudarga. Perannya memberikan suap kepada masyarakat agar memilih Ki Jaya Sudarga sebagai lurah. Ini tentu menimbulkan gejolak di masyarakat.
“Salah satu yang menolak adalah keluarga Miranti yang diperankan Danlanal DIY Kolonel Laut Damayanti Keluarga terpecah karena suami Miranti yang diperankan Gubernur AAU Marsda TNI Eko Dono Indarto bersikukuh memilih Ki Jaya Sudirga,” kata sutradara pementasan Bambang Paningron.
Selain peran di atas, terdapat pula beberapa pejabat lain yang terlibat. Ada Penjabat Bupati Kulonprogo Tri Saktiyana yang berperan sebagai Mirjan, Penjabat Wali Kota Jogja Sumadi yang berperan sebagai Mardi.
Tokoh lain juga ada Pringga diperankan Danlanud Adisutjipto Marsekal Pertama Azhar Aditama, Wakil Gubernur AAU Marsma Joko Sugeng berperan sebagai Tedjo. Lalu Ki Ajar Rumeksa yang diperankan Ketua Pengadilan Tinggi DIY Setyawan Hartono dan Nyi Ajar yang diperankan Kajati DIY Katarina Endang Sarwestri.
“Karena ketoprak adalah seni tradisi yang paling dekat dengan masyarakat. Oleh karenanya, bahasa yang digunakan dalam dialog bisa menggunakan bahasa Indonesia. Pendukung yang terlibat dan bukan etnis Jawa, tetap bisa terlibat dalam perumusan naskah dialognya,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News