Salah satu jamaah yang meniti bahagia itu adalah Musinah. Dia datang mengenakan kebaya hitam dengan penutup kepala hijau beludru. Helaian uban yang disembunyikannya tetap menyembul. Namun hidung dan mulutnya, tertutup rapat oleh masker berwarna hitam. “Senang,” ujarnya singkat saat hendak pulang, usai Salat Id.
Meski terbungkuk, perempuan 80 tahun ini rela datang berjalan kaki. Tapi, dia tidak berangkat sendiri.Namun bertiga dengan anggota keluarganya. “Alhamdulillah, bisa salat bareng cucu,” lontar warga Kretek itu.
Suka cita juga dirasakan oleh Diah Kamila Sari. Gadis 22 tahun ini mengaku rindunya terobati. Dua tahun lalu, dia tidak bisa berkumpul dengan anggota keluarganya di kampung. Tak bisa pula melaksanakan Salat Id di Gumuk Pasir. Akibat pemerintah pusat masih berlakukan pembatasan, guna mencegah meluasnya pandemi Covid-19. “Dua tahun nggak salat di sini, rindu. Alhamdulillah tahun ini bisa di sini,” ucap warga yang kini tinggal di Bekasi, Jawa Barat itu.
Ketua LPCR PP Muhammadiyah Kretek, Jamaludin Ahmad pun mengaku bersyukur. Salat Id di Gumuk Pasir dapat berjalan lancar. Dia mengapresiasi, kedisiplinan jamaah dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes). “Artinya, mereka mensyukuri tapi tidak lupa diri,” serunya.
Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kretek, Suhardi mencatat, ada sekitar 5.300 jamaah yang mengikuti Salat Id di Gumuk Pasir. Sedekah yang berhasil dihimpun pun terbilang cukup besar, yaitu Rp 62 Juta. “Ini mengharukan,” cetusnya.
Gelaran ini, sudah direncanakan Suhardi sekitar dua bulan sebelum Ramadan. Berkoordinasi dengan Panewu, Polsek, dan Koramil. “Ini kami bersyukur Alhamdulillah. Tahun ini pemerintah beri kelonggaran untuk kami melaksanakan Salat Id seperti sebelum pandemi,” tuturnya.
Suhardi mengatakan, warganya sudah menantikan Salat Id di Gumuk Pasir. Sebab lokasi ini dinilainya istimewa. Lantaran fenomena alam ini hanya terjadi di dua tempat saja di dunia. “Ini merupakan salah satu anugerah dari Parangtritis yang sangat luar biasa,” tandasnya. (fat/din) Editor : Editor Content