Perjalanan hidup tokoh Wali Songo, Sunan Kalijaga di Kapanewon Panggang masih kuat tertancap diingatan warga setempat. Peninggalan bersejarah itu ada di Padukuhan Blimbing, Kalurahan Girisekar, dan Padukuhan Doplang, Kalurahan Girikarto, Panggang.
GUNAWAN, Gunungkidul, Radar Jogja
Berdiri kokoh diapit permukiman penduduk, Masjid Sunan Kalijaga di Padukuhan Blimbing, nampak luas di pandang karena memiliki halaman lebar. Tampak dari tempat parkir kendaraan, masjid berdiamater 9x15 meter persegi itu terbagi dalam dua ruangan. Menara tinggi menjulang digunakan menaruh pengeras suara luar. Sisi kiri, terpantau emak-emak sedang mencuci pakaian.
Tak lama berselang, seorang pria bertubuh gempal datang. Setelah mengetahui maksud kedatangan, dia menawarkan pertolongan. “Saya coba bantu temui Pak Takmir (Takmir Masjid Sunan Kalijaga, Red),” kata pria tadi, mengaku bernama Anil, saat bertemu di halaman masjid Sunan Kalijaga (12/4).
Jarum jam menunjukkan pukul 11.45. Terdengar kendaraan roda dua melintas dan berhenti di depan masjid. Kuat dugaan lelaki itu hendak mengumandangkan azan salat Duhur. Nampak terburu-buru, ambil air wudu dan masuk ruangan dan terdengarlah lantunan azan. Sejumlah jamaah berdatangan dan melaksanakan salat sunat dilanjutkan salah fardhu atau wajib.
“Bagaimana, ada yang bisa kami bantu?,” kata salah seorang jamaah usai mengucap salam. Diketahui dia seorang pamong Kalurahan Girisekar, Nanang Rudi. Sebagai perangkat kalurahan, sedikit banyak pihaknya mengerti sejarah Masjid Sunan Kalijaga. Peninggalan bersejarah itu ada rentetannya dengan Petilasan Kembang Lampir, sebelah utara Masjid Sunan Kalijaga.
“Ini (masjid) sudah satu kali pemugaran. Dan peninggalan yang hingga kini masih ada adalah mustaka yang di atas itu,” kata Nanang. Namun lebih tepat pihaknya menyarankan agar meminta keterangan langsung kepada takmir masjid. Hal lain terkait dengan lingkungan, menurutnya, kebutuhan air bersih di lingkungan pemukiman aman. “Insya Allah air tidak ada masalah,” ujarnya.
Obrolan kami terhenti. Pak Takmir tiba dengan mengendarai Honda Grand. Mengenakan kopiah hitam, baju koko, sarung dengan motif kotak-kotak cokelat putih. Tangan kanannya menenteng tumpukan map kertas. Sejurus kemudian menyapa dan langsung pada maksud dan tujuan. Sejenak ia mengerutkan dahi, lalu meneruskan perbincangan dengan menyebut ukuran masjid.
“Dulu ukuran masjid 4x4 meter persegi. Dinding gedek (anyaman bambu, Red). Sekarang dibangun di tanah wakaf diamaternya 9x15 meter persegi,” kata Takmir Masjid Anwar Samidi.
Sedikitnya ada dua peninggalan Sunan Kalijaga. Peratama, kubah masjid atau mustaka yang terbuat dari gerabah. Kedua, sumber mata air tidak jauh dari lokasi masjid. Konon, menurut cerita turun-temurun, tempat itu sering digunakan untuk wudu Sunan Kalijaga. Pihaknya bersyukur hingga sekarang syiar agama Islam masih berlangsung.
“Jamaah kami terdiri atas 4 RT dan 100 kepala keluarga. Dinamakan Masjid Sunan Kalijaga karena yang mendirikan Sunan Kalijaga,” ungkapnya.
Kemudian di Padukuhan Doplang, Kalurahan Girikarto, juga ada peninggalan Sunan Kalijaga. Ketua Takmir Masjid Sunan Kalijaga Sunardini mengatakan, semula bangunan utama masjid seluas 8 x 8 meter. Tiga tahun lalu, masyarakat memperluas bangunan dengan menambah serambi ukuran 6x8 meter dan teras 2x8 meter. “Masjid berdiri di tanah SG (Sultan Ground),” katanya. (laz) Editor : Editor Content