Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bantaian Adat, Upacara Sedekah Anak Negeri

Administrator • Kamis, 31 Maret 2022 | 17:39 WIB
ADAT NUSANTARA: Salah satu rangkaian Upacara Bantaian Adat merupakan salah satu upacara sedekah dengan memotong Kerbau untuk dibagikan kepada masyarakat. (KEMENDIKBUDRISTEK FOR RADAR JOGJA)
ADAT NUSANTARA: Salah satu rangkaian Upacara Bantaian Adat merupakan salah satu upacara sedekah dengan memotong Kerbau untuk dibagikan kepada masyarakat. (KEMENDIKBUDRISTEK FOR RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan, melalui Direktorat Perfilman, Musik dan Media, bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, serta Sanggar Seni Budayo Tabir menggelar event bertajuk “Bantaian Adat : Sedekah Anak Negeri”. Acara ini sendiri sudah dilaksanakan pada 28 Maret 2022 di wilayah Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.

Upacara Bantaian Adat merupakan salah satu upacara sedekah dengan memotong Kerbau untuk dibagikan kepada masyarakat. Tradisi yang hidup di masyarakat Rantau Panjang Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin, biasanya dilaksanakan 1 minggu menjelang dilaksanakannya puasa Ramadan.

Sedikit berbeda di banding tahun-tahun sebelumnya, Upacara Bantaian Adat di Merangin, Jambi mengawali rangkaian ruwatan nusantara dalam rangka ruwatan bumi yang akan digelar oleh Kemendikbudristek pada 13 September 2022 mendatang di Borobudur.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid mengatakan, kegiatan ruwatan bumi yang akan digelar di Borobudur menjadi puncak pertemuan Menteri bidang kebudayaan G20. Hilmar menyatakan pelaksanaan upacara ruwatan bumi dinilai tepat karena semua negara di dunia saat ini sedang berupaya bangkit bersama-sama dari pandemic Covid-19.

Narasi yang coba dibangun dalam kegiatan upacara ruwatan bumi ini untuk memperlihatkan bahwa upacara adat bisa dipakai sebagai kontrol sosial, interaksi dan komunikasi antar warga masyarakat, bahkan warga dunia yang pada akhirnya dapat mempererat hubungan masyarakat bahkan hubungan antar negara tambah Hilmar. “Terpenting sesuai dengan tema G20 ‘Recover Together, Rcover Stronger’ menjadi sebuah aksi nyata dimana kita perlihatkan semangat gotong royong yang ditonjolkan dalamruwatan bumi ini,” ujar Hilmar. (ila) Editor : Administrator
#Kemendikbudristek #Tardisi Nusantara #Adat Jambi #Bantaian Adat