Kondisi ini berbanding terbalik dengan harga telur. Saat harga pakan naik, harga jual telur justru anjlok. Titik harga terendahnya mencapai Rp 13.500,- pada September 2021.
“Menjadi berat karena biaya produksi meningkat dari selisih harga, kenaikan 3,5 kali harga pakan. Kami asumsikan 1 kilogram telur dihasilkan dari 3,5 kilogram pakan. Dengan harga jagung yang tinggi dan telur yang jatuh, peternak sungguh rugi," jelasnya melalui sambungan aplikasi Zoom, Kamis (24/3).
Kondisi ini bertambah berat karena berlangsung saat pandemi Covid-19. Adanya kebijakan pengetatan berimbas pada penjualan telur. Ini karena hotel dan restoran memilih tidak operasional selama kebijakan pengetatan berlangsung.
"Apalagi waktu itu PPKM, penjualan telur kami sepi, karena hotel restoran kembali tutup,” curhatnya.
Atas permasalahan ini, pihaknya meminta pemerintah untuk memprioritaskan kerjasama. Fokusnya antara peternak dengan gabungan kelompok tani (gapoktan).
Kerjasama lanjutnya untuk menjamin ketersediaan jagung. Hal ini mengingat para peternak rakyat khawatir jagung justru dibeli oleh perusahaan besar. Selain itu juga struktur harga yang jelas baik dari sisi jagung, pakan ayam maupun telur ayam.
“Lewat koperasi-koperasi yang sudah ada kami ingin dikoordinasikan dengan gapoktan-gapoktan di daerah masing-masing, sehingga jatah kami satu tahun ini sudah aman. Kami tidak meminta harga berapa, tapi mohon dikontrakkan yang terbaik sehingga petani jagung juga aman tetapi kami juga aman,” ujarnya. (isa/dwi) Editor : Editor News