Ade memaparkan potensi erupsi Gunung Semeru bisa terprediksi sejak awal. Mengacu pada volume kubah lava hingga peningkatan aktivitas vulkanologi. Sehingga proses mitigasi dan antisipasi bencana erupsi bisa menjadi lebih awal.
“Ditunjukan dengan grafik warna merah lebih sering erupsi. Artinya material sudah naik ke permukaan dan peningkatan aktivitas itu sudah terlihat sejak 90 hari terakhir sebelum 4 Desember (erupsi Gunung Semeru),” jelasnya ditemui di Kampus FMIPA UGM Jogjakarta, Senin (6/12).
Mengacu pada data PVMBG, Ade mengungkapkan penumpukan material sudah telampau banyak. Kondisi ini tentu berimbas pada tingkat kestabilan material di puncak Gunung Semeru. Potensi erupsi, lanjutnya, bisa terjadi sewaktu-waktu.
Berdasarkan catatan yang sama juga tak terjadi gempa VTA atau gempa tektonik dalam. Begitupula gempa VTB atau gempa tektonik dangkal dari tubuh Gunung Semeru. Artinya tidak ada kecenderungan material baru dari gunung berapi berjenis stratovolcano.
“VTA dan VTB tidak ada, tapi didominasi gempa erupsi karena adanya penumpukan material. Maka analisis kami lebih kepada runtuhnya kubah lava,” katanya.
Terkait jarak luncur, Ade memaparkan ada beberapa teori. Pertama adalah tinggi volume material awan panas,. lalu terdapat kandungan gas dan terakhir kondisi hujan di puncak gunung. Ketiga kemungkinan ini membuat jarak luncur awan panas melebihi batas aman 5 kilometer.
Hipotesis tersebut, lanjutnya, tidak serta merta dapat memprediksi jarak luncur. Ini karena faktor kondisional saat terjadi erupsi sangat menentukan. Terlebih setiap gunung berapi memiliki karakter erupsi yang berbeda.
“Ketidakpastian dalam beberapa faktor yang kemudian membuat (jarak luncur awan panas) lebih panjang itu diluar kuasa kita. Tapi memang setidaknya ada peningkatan aktivitas terutama dalam 4 hari terakhir berupa hembusan dan guguran,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News