Kepala Stage BMKG Jogjakarta Ikhsan menuturkan gempa bumi berasal dari aktivitas sesar Opak. Tergolong sebagai gema bumi dangkal. Berdasarkan titik episentrum, gempa bumi tektonik ini tidak menimbulkan tsunami.
“Dari catatan kami ini termasuk jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar opak. Hasil permodelan menunjukan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” jelasnya dalam keterangan tertulisnya, Selasa pagi (26/10).
Walau begitu guncangan gempa bumi terasa di beberapa wilayah. Mulai dari Tanjungsari Gunungkidul dan sebagian besar Kabupaten Gunungkidul dengan skala II modified mercalli intensity (MMI). Berupa getaran yang dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
Stage BMKG Jogjakarta juga beluim mendapatkan adanya laporan kerusakan akibat gempa. Baik retakan tanah ataupun kerusakan bangunan. Hingga jeda waktu 06.50 WIB juga tidak terjadi aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock.
“Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yg membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali kedalam rumah,” katanya.
Ikshan juga meminta masyarakat tak termakan informasi palsu atau hoax. Tetap memantau informasi yang bersumber pada Stage BMKG Jogjakarta. Baik melalui situs website, aplikasi maupun media sosial.
“Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News