Beberapa komunitas pun menggelar pemantauan. Di antaranya di Griya Antariksa, Soropadan, Sleman, yang merupakan markas dari Jogja Astro Community (JAC). Sebuah komunitas pengamat fenomena antariksa amatir yang ada di DIJ.
Radar Jogja bersama JAC mengamatai proses terbentuknya gerhana itu dimulai pada pukul 18.11. Super Blood Moon mencapai bentuk maksimal pada pukul 18.18. Kemudian baru berakhir kurang lebih ketika memasuki pukul 18.30.
Ketua JAC Agung Laksana mengungkapkan, fenomena gerhana bulan kali ini cukup spesial. Selain bisa dilihat dengan jelas tanpa harus menggunakan teleskop, gerhana bulan kali ini juga bertepatan dengan hari raya Waisak. "Biasanya, perayaan waisak itu memang kerap bertepatan dengan bulan purnama juga," jelasnya.
Agung menambahkan, fenomena gerhana bulan sebenarnya terus terjadi setiap tahun. Namun, lokasi untuk bisa menyaksikan fenomena itu bisa berubah-ubah. Beruntung tahun ini DIJ menjadi salah satu lokasi yang bisa dengan jelas menyaksikan gerhana bulan. "Untuk gerhana bulan seperti ini belum tahu kapan lagi akan terjadi, tergantung dinamika pergerakan bulan dan bumi," tandasnya.
Cuaca ketika proses gerhana bulan itu sendiri terpantau cerah. Puluhan orang turut hadir menyaksikan langsung proses fenomena alam langka itu di bangunan paling atas Griya Antariksa.
Nuryanto, salah satu masyarakat yang hadir dalam pemantauan gerhana bulan di Griya Antariksa mengungkapkan dirinya sengaja hadir lantaran diajak sang anak. Selain itu, Nuryanto juga mengaku penasaran. Pasalnya, selama ini ia hanya bisa menyaksikan gerhana bulan lewat mata telanjang. "Di sini ada teleskopnya, agak beda saja rasanya," ujarnya. (kur/pra) Editor : Editor Content