Salah pengelolaan, pragmatisme pengambil kebijakan, sampai dengan metode kepelatihan yang sudah kedaluarsa ternyata masih menjadi masalah serius bagi Ketua Umum PSSI Letjend Edy Rahmayadi.
Hal ini terlontarkan saat ada diskusi "Masa Depan Sepakbola Indonesia di Dongeng Kopi, Jalan Wahid Hasyim, Gorongan, Condongcatur Depok, Sleman, Senin malam (26/12). Wartawan Olahraga Jawa Pos Miftakhul FS dan Dosen Ilmu Komunikasi UMY Fajar Junaedi mengungkapkan, bagaimana masalah Timnas seperti benang ruwet tersebut.
Miftahul mengatakan, jika bisa dipilah dan diamati, salah satu alasan kegagalan Indonesia memiliki Timnas yang bagus karena kompetisinya juga bermasalah. Liga atau klub di Indonesia banyak digunakan segelintir orang untuk ajang kepentingan politik dan bisnis.
"Ada yang rela keluar uang banyak menghidupkan klub, tapi jelas mengharapkan kompensasi di belakangnya. Jika dekat dengan pemerintahan, ada banyak sekali proyek pengadaan, proyek infrastruktur olahraga dan sepakbola bisa jadi celah. Bisa jadi dapat kontrak pengadaan. Itu banyak terjadi tapi sedikit yang tahu," ujarnya.
Selain itu, adalah permainan agen pemain dan judi pengaturan skor pertandingan. Bisa dibilang seperti kentut. Ada baunya tapi tidak ada wujudnya. Pengaturan skor bisa melalui agen pemain. Sebab satu agen bisa memiliki pemain di beberapa klub berbeda. "Bisa dikendalikan jika kedua tim bertemu. Itulah kenapa kuota pemain asing selalu besar, lima pemain. Sekarang direduksi empat asing satu Asia. Selalu ada celah," imbuhnya.
Selain itu, masih ada sekitar 60 persen kekuatan politik yang ada di balik klub-klub di Indonesia. Politik tidak bisa dihilangkan selama suporter masih bisa diarahkan. Baik secara halus maupun terang-terangan. Perlawanan menurutnya bisa dimulai dari suporter dengan hanya mendukung klub dan tidak mendukung pengurus klub.
"Kalau suporter mandiri, datang ke stadion hanya mendukung klub, kekuatan politik bisa direduksi," bebernya.
Ia mengungkapkan, suporter Persib Bobotoh, setelah dilakukan survey komprehensif sampai ke kantong-kantong di tingkat desa, jumlahnya mencapai 3 juta orang. Jumlah tersebut tentu menjadi pangsa pasar pemilih dan bisnis yang menggiurkan. Termasuk juga mungkin basis masa klub lainnya.
"Sisi positifnya, sudah mulai ada anak muda yang masuk ke sepak bola, berani memegang klub dan mencoba mereduksi semua itu. Ada dari Samarinda, Bali, sebentar lagi Surabaya. Saya harap sih bisa menyebar ke seluruh Indonesia," ungkapnya.
Jika kompetisi reguler ternyata banyak bopengnya, maka sulit mengharapkan pemain dengan kualitas yang sebaik negara lain. Alumnus Fakultas Ilmu Kesehatan UNY ini menambahkan, kualitas pelatih lokal yang minim dalam penerapan sport science. Mereka hanya mengandalkan pengalaman selama menjadi pemain.
Ia menyebutkan, ada pelatih lokal pernah menjadi pelatih tim nasional bercerita panjang lebar metode kepelatihan yang sedang berkembang di Eropa. Mulai bertahan, menyerang, menjaga fisik, periodesasi peak performance.
"Dia pelatih top nasional. Tapi saya sudah pelajari apa yang dia omongkan 15 tahun lalu. Itu semua sudah ada jauh sebelumnya dan tidak dipelajari pelatih saat ini. Jadi sudah ketinggalan jauh," cetusnya.
Selain itu, jika ditilik dari segi teknis, jarang sekali tim di Indonesia yang menggunakan jasa pelatih fisik. Itulah kenapa pemain Indonesia hanya bisa bermain separo babak dan mlempem di penghujung babak kedua. Dari sedikit pelatih itu, Fim menyebut PSIM Jogja, PSS Sleman, Persipura di era Jacksen Tiago dan Beni Dolo yang lekat dengan pelatih fisik Octavianus Matakupan. "Pelatih timnas Piala Asia 2007 Ivan Kolev pernah bilang, pemain kita 80 persen jalan 20 baru lari," kelakarnya. (zal/eri) Editor : Administrator