RADAR JOGJA – Kalangan petani hortikultura di Indonesia mendapat tambahan pilihan insektisida jenis baru yang disebut mampu mengendalikan dua kategori hama sekaligus dalam satu formulasi.
Namanya Camalus, diperkenalkan di Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara, Senin (6/7/2026), dan dihadiri sekitar 350 petani setempat.
Selama ini, petani hortikultura umumnya harus mencampur dua jenis insektisida berbeda untuk mengatasi hama pemakan daun (chewing) seperti ulat.
Baca Juga: Merasa Tidak Mendapat Keadilan dari Wasit, Pelatih Mesir Hossam Hassan Ogah Nonton Sisa Piala Dunia
Dan hama penusuk-penghisap (sucking) seperti kutu kebul, kutu daun, dan thrips, karena kedua jenis hama tersebut kerap menyerang tanaman secara bersamaan.
"Camalus mengandung dua bahan aktif, yaitu Tetraniliprole dan Spirotetramat, yang digabungkan dalam satu formulasi."
"Kombinasi ini membuat senyawa bisa bergerak dua arah di dalam jaringan tanaman sehingga menjangkau daun, batang, buah, hingga tunas baru," kata Head of Field Solutions Bayer South East Asia & Pakistan, Kukuh Ambar Waluyo.
Baca Juga: Pemuda 26 Tahun Asal Magelang Hilang di Lereng Merapi, Upaya Pencarian Masih Terus Dilakukan
Proses riset Camalus berlangsung sekitar 10 tahun, mulai dari tahap penemuan molekul di laboratorium hingga uji coba lapangan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di pusat riset milik perusahaan di Klaten, Jawa Tengah.
Ancaman hama memang jadi tantangan nyata bagi petani hortikultura.
Salah satu contohnya adalah ulat daun kubis (Plutella xylostella), yang menurut penelitian BPTP Sumatra Utara dapat menyebabkan kehilangan hasil panen antara 50 hingga 100 persen apabila tidak dikendalikan dengan baik.
Baca Juga: Resmi Gabung Persija, Pratama Arhan akan Reuni dengan Shin Tae-Yong
Sumatra Utara sendiri tercatat sebagai penghasil cabai besar terbesar ketiga secara nasional dengan kontribusi 12,53 persen dari produksi nasional, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025.
Produksi cabai besar nasional pada 2025 mencapai 1,72 juta ton, naik 16,73 persen dibanding tahun sebelumnya.
Distribusi Camalus akan diperluas ke 13 provinsi sepanjang 2026, meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Bali.
Adapun soal dosis dan protokol aplikasi yang aman, perusahaan menyarankan petani berkonsultasi dengan tim agronomis di lapangan atau petugas penyuluh pertanian setempat sebelum menggunakan produk ini di lahan. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin