Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

22 Negara Kutuk Iran Blokade Selat Hormuz, Siap Bantu Pastikan Lalu Lintas Aman

Iwa Ikhwanudin • Minggu, 22 Maret 2026 | 13:12 WIB

Photo
Photo

TIMUR TENGAH, 22 Maret 2026 – Sebanyak 22 negara, termasuk Uni Emirat Arab (UEA), Inggris, Prancis, Jerman, Kanada, Jepang, Australia, dan sejumlah negara Eropa lainnya, mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam keras upaya Iran memblokade Selat Hormuz.

Pernyataan ini menuntut Teheran segera menghentikan ancaman, penanaman ranjau, serangan drone serta rudal, serta segala bentuk gangguan terhadap pelayaran komersial di jalur vital tersebut.

Selat Hormuz, yang menjadi jalur perdagangan minyak dunia paling strategis (sekitar 20-21% pasokan minyak global melintas di sini), mengalami penurunan volume pengiriman hingga 91% sejak konflik memanas pada awal Maret 2026.

Blokade de facto ini telah memicu lonjakan harga minyak dunia hingga 45% dalam tiga pekan terakhir, mengancam stabilitas ekonomi global.

Pernyataan bersama yang awalnya digagas oleh sejumlah negara Eropa dan Jepang pada 19 Maret 2026, kemudian diperluas hingga mencakup 22 penandatangan.

Mereka menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam upaya yang sesuai guna memastikan keamanan pelayaran di Selat Hormuz, termasuk langkah-langkah stabilisasi pasar energi.

“Kami mengutuk dengan tegas serangan Iran terhadap kapal komersial tak bersenjata di Teluk, serangan terhadap infrastruktur sipil termasuk instalasi minyak dan gas, serta penutupan de facto Selat Hormuz oleh pasukan Iran,” bunyi pernyataan tersebut, seperti dikutip dari berbagai sumber internasional.

Langkah diplomatik ini muncul di tengah hari ke-20 konflik terbuka antara pasukan pimpinan AS-Israel melawan Iran, yang dipicu serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir Iran serta respons balasan Teheran berupa ranjau, drone, dan rudal.

Situasi ini semakin memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Meski pernyataan bersama menunjukkan tekanan internasional yang terkoordinasi, para analis menilai diplomasi semata belum cukup membuka kembali selat tersebut.

Tantangan utama meliputi kemampuan penyapuan ranjau AS yang terbatas, penolakan awal sebagian sekutu NATO untuk terlibat militer, serta kekuatan angkatan laut kecil Iran yang masih mempertahankan ribuan ranjau dan armada kapal cepat.

Baca Juga: Arab Saudi Kutuk Keras Serangan Udara Israel ke Infrastruktur Militer Suriah Selatan

Pernyataan ini juga mencerminkan upaya mengisolasi Iran secara diplomatik sambil membuka jalan bagi kemungkinan kontribusi keamanan maritim dari negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut.

Situasi di Selat Hormuz terus dipantau ketat dunia, karena dampaknya tidak hanya pada harga BBM, tetapi juga stabilitas rantai pasok global dan inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia sebagai importir minyak bersih. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#serangan iran #Blokade Minyak #ranjau #selat hormuz