YERUSALEM – Ketegangan Timur Tengah semakin memanas setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah selatan Israel, termasuk kota Dimona dan Arad, pada Sabtu (21/3/2026) malam waktu setempat.
Serangan ini diyakini sebagai balasan atas dugaan serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz milik Iran sebelumnya.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) langsung merilis pernyataan resmi melalui akun X @iaeaorg, menyatakan bahwa pihaknya tidak menerima indikasi adanya kerusakan pada Pusat Penelitian Nuklir Negev di Dimona.
Berdasarkan informasi dari negara-negara di kawasan, tidak terdeteksi peningkatan kadar radiasi abnormal di sekitar lokasi.
Direktur Jenderal IAEA, Rafael Mariano Grossi, menekankan pentingnya pengendalian militer maksimal, khususnya di sekitar fasilitas nuklir, untuk mencegah risiko kecelakaan nuklir yang lebih luas di tengah eskalasi konflik Israel-Iran yang kini memasuki pekan keempat.
Menurut laporan layanan penyelamat Israel, serangan rudal Iran menyebabkan lebih dari 100 orang terluka, termasuk anak-anak, dengan beberapa korban luka berat akibat serpihan.
Bangunan-bangunan sipil di Dimona dan Arad mengalami kerusakan signifikan, meski fasilitas nuklir utama yang berjarak sekitar 13–20 km dari pusat kota tidak terdampak langsung.
Iran melalui media resmi menyatakan serangan ini sebagai respons langsung terhadap serangan yang menargetkan kompleks pengayaan uranium Natanz.
IAEA sebelumnya juga telah memantau situasi di Natanz dan melaporkan tidak ada peningkatan radiasi di luar situs tersebut.
Konflik yang melibatkan serangan balas dendam ke fasilitas sensitif nuklir ini memicu kekhawatiran internasional akan potensi bencana radiasi regional.
Pernyataan Grossi menegaskan bahwa kedekatan serangan dengan instalasi nuklir harus menjadi perhatian serius semua pihak.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di wilayah Negev masih dipantau ketat oleh IAEA dan otoritas setempat.
Dunia menanti langkah de-eskalasi dari kedua belah pihak guna mencegah perang semakin meluas. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin