TEHERAN, 21 Maret 2026 – Konflik Timur Tengah semakin memanas. Iran kembali melancarkan serangan rudal besar-besaran terhadap Israel pada Sabtu (21/3/2026) dini hari waktu setempat.
Ini menandai gelombang ke-70 Operasi True Promise 4 yang diluncurkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sejak eskalasi perang dimulai akhir Februari lalu.
Menurut laporan Spectator Index dan berbagai sumber internasional, Iran menargetkan puluhan lokasi strategis milik Israel dan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Serangan ini mencakup rudal balistik seperti Emad, Qiam-1, Khaibar Shikan, serta Qadr, ditambah drone tempur.
IRGC mengklaim telah mengenai lebih dari 55 target, termasuk area Haifa dan Tel Aviv di Israel, serta beberapa instalasi militer AS di Teluk Persia.
Serangan ini merupakan respons langsung atas serangan udara gabungan AS-Israel yang menghantam fasilitas nuklir Natanz di Iran pada hari yang sama.
Menteri Pertahanan Israel menyatakan serangan balasan terhadap Iran akan "meningkat secara signifikan" dalam waktu dekat, menandakan siklus eskalasi yang terus berlanjut.
Dampak Ekonomi Global Terasa Eskalasi ini langsung memicu lonjakan harga minyak dunia.
Harga Brent crude melesat melewati $110 per barel, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Penutupan sebagian Selat Hormuz dan ancaman terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk membuat pasar global cemas akan gangguan pasokan energi jangka panjang.
Di Israel, sistem pertahanan Iron Dome kembali aktif mencegat sebagian besar rudal, meski laporan menyebut adanya kerusakan di beberapa area sipil, termasuk dekat Haifa dan Tel Aviv.
Belum ada laporan korban jiwa signifikan dari gelombang terbaru ini, tetapi sirene serangan udara kembali menggema di berbagai kota Israel.
Konteks Perang yang Semakin Luas Perang Iran 2026 dimulai pada 28 Februari setelah serangan mendadak AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan pejabat senior lainnya.
Sejak itu, Iran telah melancarkan ratusan rudal dan drone ke Israel serta basis militer AS di Bahrain, UAE, Kuwait, Irak, hingga Arab Saudi.
Iran bahkan menunjukkan kemampuan jangkauan baru dengan meluncurkan rudal ke pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia, yang sebelumnya dianggap di luar jangkauan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan Iran telah "kehabisan rudal" dan perang bisa segera mereda, namun kenyataannya serangan Iran terus berlanjut hampir setiap hari.
Di sisi lain, Israel dan AS terus mengklaim telah merusak signifikan kemampuan rudal dan nuklir Iran.
Apa Selanjutnya?
Para analis memperingatkan risiko perang regional yang lebih luas jika siklus serangan balasan ini tidak segera dihentikan melalui diplomasi.
Sementara itu, warga sipil di kedua belah pihak terus hidup di bawah ancaman sirene dan serangan udara. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin