Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menelusuri Makna Lebaran Ketupat dalam Jejak Budaya dan Spiritualitas Masyarakat Jawa

Bahana. • Sabtu, 21 Maret 2026 | 13:05 WIB

Ilustrasi ketupat.
Ilustrasi ketupat.

Perayaan Idulfitri di Indonesia tidak berhenti pada hari pertama Syawal. Di banyak daerah, khususnya Jawa, masyarakat masih melanjutkan suasana Lebaran melalui tradisi yang dikenal sebagai Lebaran Ketupat.

Tradisi ini menjadi penanda bahwa Lebaran bukan sekadar perayaan satu hari, melainkan rangkaian panjang yang sarat makna sosial, budaya, dan spiritual.

Lebaran Ketupat menunjukkan bagaimana Islam di Indonesia tumbuh berdampingan dengan tradisi lokal.

Lebaran Ketupat umumnya dirayakan pada hari ke-7 atau ke-8 bulan Syawal, setelah umat Muslim menjalankan puasa sunnah enam hari.

Hal ini sejalan dengan anjuran yang dijelaskan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia mengenai keutamaan puasa Syawal sebagai penyempurna ibadah Ramadan.

Pada momen ini, masyarakat berkumpul, memasak ketupat, opor, dan berbagai hidangan khas, lalu menyantapnya bersama keluarga dan tetangga. Tradisi ini sering disebut sebagai “kupatan” atau “bakda kupat”.

Secara historis, Lebaran Ketupat kerap dikaitkan dengan peran Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyebarkan Islam.

Ketupat tidak hanya diperkenalkan sebagai makanan, tetapi juga sebagai media simbolik untuk menyampaikan ajaran tentang pengakuan kesalahan dan pentingnya saling memaafkan.

Melalui pendekatan ini, ajaran Islam dapat diterima secara lebih akrab oleh masyarakat Jawa tanpa menghilangkan identitas budayanya.

Lebih dari sekadar hidangan, ketupat mengandung makna filosofis yang mendalam.

Dalam tradisi Jawa, ketupat sering dimaknai sebagai “ngaku lepat” atau pengakuan atas kesalahan. Selain itu, terdapat konsep “laku papat” yang meliputi lebaran (usai), luberan (berbagi), leburan (melebur dosa dengan saling memaafkan), dan laburan (menjaga kesucian diri).

Bentuk anyaman ketupat yang rumit melambangkan kompleksitas kesalahan manusia, sementara isi beras putih di dalamnya menjadi simbol kesucian setelah proses saling memaafkan.

Makna ini juga diperkuat dalam kajian ilmiah berjudul The Philosophy Meaning of the Lebaran Ketupat Tradition in Javanese Society (2025) yang menjelaskan bahwa ketupat merupakan simbol keberhasilan manusia dalam menjalani proses spiritual selama Ramadan dan Syawal.

Penelitian tersebut menegaskan bahwa tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai praktik budaya, tetapi juga sebagai medium komunikasi nilai-nilai religius, seperti syukur, kebersamaan, dan harmoni sosial dalam masyarakat Jawa.

Di tengah arus modernisasi, Lebaran Ketupat tetap bertahan sebagai bagian penting dari identitas budaya masyarakat Indonesia.

Tradisi ini bahkan mulai dilihat sebagai potensi warisan budaya tak benda yang perlu dilestarikan, sejalan dengan semangat yang didorong oleh UNESCO dalam menjaga keberagaman budaya dunia.

Lebaran Ketupat mengajarkan bahwa makna Idulfitri tidak berhenti pada kemenangan setelah Ramadan.

Ia berlanjut dalam praktik nyata, yaitu berbagi, saling memaafkan, dan menjaga hubungan sosial.

Dalam tradisi sederhana ini, tersimpan pesan mendalam tentang bagaimana manusia kembali kepada kesucian, tidak hanya secara personal, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat.

Penulis: Ferry Aditya

Editor : Bahana.
#ketupat #masyarakat jawa #idulfitri