Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemain Pokémon GO di Indonesia dan Dunia Tanpa Sadar Latih AI Robot Pengantar Barang, Kumpulkan 30 Miliar Gambar Dunia Nyata

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 17 Maret 2026 | 04:27 WIB

Pokémon GO dipakai untuk kepentingan pengiriman barang.
Pokémon GO dipakai untuk kepentingan pengiriman barang.

SIAPA sangka permainan nostalgia menangkap monster virtual di jalanan kota ternyata punya dampak jauh lebih besar? Perusahaan di balik Pokémon GO, Niantic, mengungkap bahwa foto dan scan AR (Augmented Reality) dari jutaan pemain telah menghasilkan dataset raksasa lebih dari 30 miliar gambar dunia nyata.

Data tersebut kini dimanfaatkan untuk melatih sistem navigasi visual pada robot pengantar barang milik startup Coco Robotics, sehingga robot bisa bergerak akurat di trotoar kota tanpa bergantung pada sinyal GPS yang sering terganggu di area perkotaan padat.

Menurut pengumuman resmi Niantic Spatial (divisi AI Niantic), gambar-gambar itu berasal dari aktivitas pemain saat memindai lingkungan untuk menampilkan Pokémon secara realistis di layar ponsel. Ribuan foto per lokasi diambil dari berbagai sudut, waktu, cuaca, dan pencahayaan berbeda — menciptakan semacam “peta hidup” (living digital twin) yang terus diperbarui.

“Menempatkan Pikachu berlari secara realistis di dunia nyata dan membuat robot Coco bergerak aman serta tepat sasaran sebenarnya adalah masalah yang sama,” ujar CEO Niantic Spatial, John Hanke, seperti dikutip berbagai media teknologi internasional.

Fenomena ini mirip dengan kasus Google reCAPTCHA yang diam-diam memanfaatkan input pengguna untuk mendigitalkan buku-buku lama. Bedanya, di sini jutaan orang yang hanya ingin bermain game justru ikut membangun infrastruktur AI untuk robot otonom masa depan.

Di Indonesia sendiri, Pokémon GO pernah menjadi fenomena besar sejak rilis 2016. Banyak pemain di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, hingga Yogyakarta aktif berburu Pokémon di taman, mal, dan jalanan — tanpa tahu kontribusi mereka kini membantu teknologi robot delivery yang mulai beroperasi di beberapa kota di Amerika Serikat dan Eropa.

Para pemain lama bahkan ada yang sudah sadar sejak era game sebelumnya, Ingress (2013), bahwa Niantic mengumpulkan data lokasi dan visual secara masif. Namun mayoritas pemain baru mengetahui fakta ini setelah berita viral di media sosial dan outlet teknologi global baru-baru ini.

Apakah ini bentuk “eksploitasi” terselubung atau justru inovasi cerdas yang memanfaatkan semangat komunitas gaming? Yang jelas, era di mana “jika produknya gratis, maka kamulah produknya” semakin terbukti nyata.

Bagi kamu yang dulu rajin jalan kaki demi Pikachu, Raichu, atau Pokémon langka lainnya — selamat! Kamu sudah ikut berkontribusi membentuk masa depan robot pengantar pizza dan groceries tanpa sadar. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#robot pengantar makanan #artificial intelligence #pokemon go